0
Gambar; Photo bersama tim PKM dan Siswa/i SD
(Sumber: Sectioly Sanra)

Meulaboh, industrialtimes.net- Masih ingatkah kita bahwa tsunami pernah menerjang Aceh 12 tahun silam? PBB menyatakan tsunami di Aceh sebagai bencana kemanusian terbesar yang pernah terjadi saat itu. Tidaksedikit masyarakat Aceh yang kehilangan harta benda, keluarga, orangtua, anak-anak, bahkan kehilangan semangat hidup karena trauma yang dihadapinya pasca tsunami 2004 lalu. Berbagai upaya dan bantuan datang untuk membangun kembali Aceh dari keterpurukannya akibat terjangan tsunami kala itu.

Potensi terjadinya kembali gempa maupun tsunami di Aceh memiliki kemungkinan yang sangat besar. Hal ini disebabkan karena Aceh tidak hanya berada pada pertemuan lempeng Asia dan Australia, namun juga berada dibagian paling ujung patahan besar Sumatera. Kondisi tersebut tentu menjadi point penting bagi pemerintah dan seluruh masyarakat untuk tetap selalu siaga akan ancaman terjadinya bencana tsunami.

Anak-anak sebagai generasi penerus dari peradaban ini tentulah harus mempunyai ilmu dan bekal yang matang akan bencana tsunami yang pernah di alami oleh orangtua mereka, agar trauma yang dialami oleh orangtua nya tidak berakibat kepada mental anak yang belum mengetahui apa itu gempa dan tsunami. Pemantapan ilmu mitigasi bencana khususnya tsunami ini harus ditanamkan sejak dini terutama didaerah yang berdekatan dengan bibir pantai.

Program Tsunami Survivor ini dijalankan oleh empat orang mahasiswa dari program studi Teknik Sipil dan Kedokteran yang tergabung dalam tim PKMM di bawah bimbingan Dr. Ir. Moch. Afifuddin, M.Eng., Kelompok ini diketuai oleh Muhammad Maulana serta tiga orang anggotanya yaitu Arthika Putri Syahfani, Sectioly Sanra, dan Muhammad Reinaldy. Tsunami Survivor sendiri merupakan program upaya pemantapan mitigasi bencana tsunami untuk memberikan pemahaman selengkap-lengkapnya kepada anak-anak tingkat SD di Gampong Lampaseh agar mereka tidak terpengaruh oleh trauma yang dimiliki orangtuanya tentang tsunami dan mereka akan tanggap terhadap tanda-tanda peristiwa tsunami.

Kegiatan ini tentunya dapat menjadi contoh bagi Gampong-gampong disekitar Gampong Lampaseh, terutama Gampong-gampong yang berada di sepanjang pesisir kota Banda Aceh untuk bersama-sama membekali anak-anak dan masyarakatnya tentang ilmu pengetahuan mengenai bencana gempa dan tsunami.

“Gempa dan tsunami bisa terjadi kapan saja dan kita tidak tau apakah adik ataupun anak-anak kita nantinya akan selamat dari bencana. Namun dengan bekal yang kita berikan saat ini telah menjadi satu cara untuk menyelamatkannya di masa yang akan datang saat bencana itu melanda.” Ujar Maulana.

Sumber           : Sectioly Sanra


Editor              : Satria Arif Hidayat

Posting Komentar

 
Top