0
Perahu Berbahan Dasar Komposit (Foto: Dokumentasi KKN-PPM Gampong Rukoh)

Medan, Industialtimes.net – Masyarakat nelayan Gampong Rukoh, Banda Aceh tampaknya akan segera mendapatkan akomodasi baru untuk melaut. Pasalnya, proyek kerja KKN-PPM Unsyiah berhasil menyuguhkan sebuah alternatif perahu berbahan dasar komposit, atau biasa dikenal dengan sebutan fiber glass.

Proyek ini dikepalai oleh Dosen Fakultas Teknik yaitu Akram, ST. MT, Dr. Iskandar, ST, M.Eng.Sc, dan Dr. Eng. Sugiarto, ST. M.Eng. Adapun mahasiswa yang terlibat berjumlah 30 orang yang mayoritasnya berasal dari Fakultas Teknik, didampingi oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kelautan dan Perikanan, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Waktu pelaksanaan KKN-PPM ini adalah 25 Juli-24 Agustus lalu.

Perahu berbahan dasar komposit ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sebagian masyarakat sudah akrab dengan produk ini. Desain yang diajukan dalam proyek ini juga merupakan desain lama yang sudah ada. Alasannya, demi tidak mengubah bentuk dan menghargai desain masyarakat nelayan pada umumnya. Di samping kecenderungan masyarakat yang sulit untuk menerima hal yang dianggap baru.

Perahu ini digadang-gadang merupakan jawaban dari kesulitan masyarakat nelayan dalam memperoleh kayu berkualitas tinggi untuk dijadikan perahu. Di mana kayu perahu yang umumnya digunakan sekarang hanya mampu bertahan selama satu hingga satu setengah tahun saja. Sisanya, masyarakat harus melakukan perbaikan dan bahkan yang terparah harus berhenti melaut karena kerusakan perahu. Sementara perahu komposit ini mampu bertahan hingga lebih dari lima tahun. Bahkan jika pengguna menyimpan dan melakukan perawatan dengan benar, perahu ini mampu bertahan hingga lebih dari 10 tahun.

Kekurangan dari perahu komposit ini adalah tidak tahan dengan paparan sinar matahari. Untuk menyiasati hal itu, bobot perahu yang hanya 50 kilogram dengan ukuran 4,2 meter akan mempermudah pengguna memindahkannya ke tempat yang teduh.

Keunggulan lain dari perahu ini adalah mudah diperbaiki. Jika perahu kayu harus melakukan pergantian spare part akibat degradasi, dan menimbulkan risiko kerusakan pada struktur dinding kapal serta penurunan tingkat kekuatannya. Sementara perahu komposit umumnya hanya akan mengalami pecah dan bisa ditambal kembali.

Antusiasme masyarakat juga cukup tinggi terhadap proyek ini. Hanya saja masyarakat menganggap nilai jualnya masih terlalu tinggi dibandingkan perahu kayu.

Produk ini sebenarnya masih melakukan penyempurnaan. Setelah dirasa cukup, rencananya akan segera diserah-terimakan dengan masyarakat Gampong Rukoh. Selanjutnya akan dilakukan penelitian real lanjutan mengenai peformansi perahu. Adapun program lanjutan yang akan dilakukan yaitu menjadi lembaga konsultasi material komposit. Di samping itu, ke depan proyek ini akan menerapkan metode lain atau unsur lain pada perahu agar tahan terhadap sinar matahari dan biota laut.

Harapan besar juga dituturkan oleh Akram selaku pimpinan proyek. Beliau berharap agar ke depan dapat membuat produk lain yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Harapannya ke depan dapat membuat produk atau model lain yang bermanfaat dan dapat digunakan oleh masyarakat.” Tuturnya. [GAS/AMN]


Posting Komentar

 
Top