0
Ilustrasi Warung Kopi
(Sumber: merdeka.com)
Pergerakan zaman berkembang begitu pesat, begitu juga dengan Aceh. selain dikenal dengan julukkan “Serambi Makkah” Aceh juga dikenal dengan sebutan negeri seribu warung kopi. Kehadiran warung kopi semakin ramai, mulai dari warung kopi sederhana hingga warung kopi modern yang memberikan pelayanan 24 jam bagi penikmat kopi. Kota Banda Aceh yang merupakan ibu kota Provinsi Aceh menegaskan bahwa Aceh dapat dikatakan sebagai provinsi seribu warung kopi, mengapa tidak? Sepanjang jalan kota Banda Aceh terdapat banyak warung kopi. Kopi seakan menjadi salah satu minuman yang paling nikmat dan menjadi minuman wajib ketika bercengkrama. Bahkan minum kopi seakan sudah menjadi darah daging yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Aceh. Saat ini Aceh menjadi produsen kopi tersohor di mata dunia, produk kopi aceh yang terkenal diantaranya adalah kopi gayo.

Dewasa ini, penikmat kopi tidak memandang lagi usia, bahkan gender juga sudah tidak menjadi penghambat bagi masyarkat Aceh meminum kopi. Warung kopi yang tersebar di sudut-sudut kota seakan menjadi tempat yang wajib dikunjungi oleh setiap masyarakat Aceh. Di dalamnya tersedia beraneka ragam fasilitas, mulai dari kelas sederhana hingga fasilitas mewah.

Sepintas munculah persepsi bahwa orang yang memiliki kebiasaan nongkrong di warung kopi terlihat seperti orang yang tidak produktif, karena hanya duduk dan berbincang-bincang dengan teman hingga berjam-jam. Disisi lain, ternyata warung kopi bukan hanya sekedar tempat tongkrongan, akan tetapi juga sebagai tempat membangun komunikasi, mulai dari membahas politik, ekonomi, silahturahmi, bisnis, gosip, cerita masyarakat sampai membahas teknologi. Namun, bukan hanya sekedar itu, meminum kopi sudah seakan menjadi gaya hidup anak muda.

Kini, warung kopi tidak pernah sepi dari remaja, dewasa, serta mahasiswa. Harga terjangkau, bebas, dan tempat yang dianggap nyaman menjadi alasan mahasiswa selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung ke warung kopi daripada ke perpustakaan untuk membaca buku dan mengerjakan tugas kuliah. Sering kita lihat diwarung-warung kopi para mahasiswa dimanjakan wifi gratis untuk membantu mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas dengan hanya bermodalkan secangkir kopi.

Selain menyuguhkan manfaat, ternyata fasilitas yang ada di warung kopi berdampak negatif pada interkasi sosial. Seperti terlihat dalam satu meja berkumpul beberapa orang, kemudian mereka menjadi acuh, tidak ada diskusi hangat dan tidak jarang hanya terdengar hiruk pikuk kesibukan masing-masing. Sebenarnya, aktivitas di warung kopi juga dapat menguras banyak waktu, tentunya kita harus memanfaatkan waktu tersebut agar tidak berbuang begitu saja. Misalnya dengan memanajemen waktu secara tepat, tidak menghabiskan waktu hanya di warung kopi hingga larut malam. Sebagaimana kita ketahui bahwa kurang istirahat berdampak pada kesehatan menurun, susah tidur (insomnia) dan bahkan menganggu konsentrasi ketika dalam perkuliahan. Seperti yang dialami teman saya, ia selalu berada di warung kopi hingga dini hari, sehingga ia sering tidak hadir kuliah pagi dan tidak dapat mengikuti ujian akhir (final exam) karena kelalaiannya tidak bangun pagi. Oleh karena itu kita harus cermat mengikuti perkembangan jaman, jangan sampai terlena dan merugikan diri sendiri.

Kiriman tulisan dari: Cita Permata Ananda, Mahasiswi Psikologi Unsyiah.

Editor: Satria Arif Hidayat

Posting Komentar

 
Top