0
Ilustrasi Gambar

Banda Aceh, industrialtimes.net – Kasus dugaan kekerasan terhadap salah seorang perwakilan DPM FKIP Unsyiah pada sidang MPM 30 April lalu kini telah memasuki tahap pemeriksaan saksi. Terkait kejadian tersebut, Tim Industrial Times berhasil mewawancarai Ricky, salah seorang Resimen Mahasiswa (Menwa). Dalam sidang MPM tersebut, ia bertindak sebagai penanggung jawab lapangan.

Menwa yang turut menjadi saksi kejadian, masih menunggu panggilan dari pihak kepolisian.
“Kami masih menunggu panggilan dari pihak kepolisian untuk memberikan kesaksian.” Katanya.

Ricky merupakan bagian dari tim Menwa yang berhasil merebut palu dari tangan korban saat terjadi aksi perebutan palu pada sidang tersebut. Ricky mengakui adanya aksi pemukulan yang terjadi di luar gedung MPR Fakultas Pertanian. Menurutnya hal tersebut terjadi karena massa yang kesal akibat korban membawa lari palu persidangan dari ruang sidang.

“Hampir seluruh peserta sidang ikut mengejar korban untuk merampas kembali palu sidang. Mereka kesal, kemudian memukul korban.” Tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwasanya pemicu emosi massa karena korban mengeluarkan kalimat-kalimat provokatif. Untungnya Ricky dan 4 orang anggota tim keamanan dari MENWA (Resimen Mahasiswa) berhasil mengamankan korban dan menghentikan amukan massa. Untuk menetralkan suasana, akhirnya korban dibawa ke markas MENWA.

“Tidak ada luka apa pun. Korban langsung kami larikan ke markas ini (red: markas Menwa), jadi kalau dibilang dilarikan ke klinik, itu salah besar.” Tuturnya.

Di sisi lain, dua orang terdakwa yakni Zulfahmi dan Agung Saputra membantah secara tegas keduanya terlibat dalam aksi pemukulan tersebut. Mereka mengaku penetapan tersangka atas mereka datang secara tiba-tiba.

Hal ini juga ditegaskan oleh Nasrullah, selaku Wakil Dekan III Fakultas Teknik. Beliau mengaku bahwa mengetahui kejadian tersebut dari berita online.

“Saya terkejut, tiba-tiba ada surat datang ke dekanan dengan penetapan Zulfahmi dan Agung sebagai tersangka.” Tuturnya.

Menurut keterangan Nasrullah, pihak rektorat telah berusaha menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan dengan memanggil pihak Menwa sebagai saksi, pihak massa yang merebut palu, dan pihak korban. Namun sayangnya korban tidak memenuhi panggilan pihak rektorat dan keluarga korban tetap memilih menempuh jalur hukum.

“Jika begitu, kami akan pasang badan. Kami dari pihak dekanan akan membantu sepenuhnya sesuai dengan koordinator dari pihak rektorat untuk menyelesaikan kasus ini.” Pungkasnya. [GAS/SAH]

Posting Komentar

 
Top