0
Ilustrasi

Industrialtimes.net - Toleransi, bukan berarti kami tak peduli sepertinya adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi emosional ummat islam saat ini. Kini, ummat islam sedang diuji kesabarannya, dipertanyakan keimanannya, diperhatikan kesetiannya. Bahkan, meskipun ada penganut agama islam yang belum menjalankan aturan agamanya dengan sempurna, tetap saja ia marah jika ada sesuatu hal terkait agamanya yang terusik.

Penulis tidak ingin membuat perpecahan antar ummat beragama. Penulis juga tidak ingin menyebutkan nama yang penulis akui sebagai sosok yang sangat mengecewakan, menurut penulis. Ya, sangat kecewa ketika ternyata ekspektasi berbanding terbalik dengan harapan. Namun, seperti itulah manusia, terkadang punya banyak kesalahan dan lupa.

Mari, kita berkaca pada sejarah bahwa betapa toleransinya ummat islam ketika masa Rasulullah SAW hidup. Dahulu mereka yang non-muslim tidak pernah dipaksa untuk memeluk agama islam. Mereka yang non-muslim juga masih boleh berada dalam kepemimpinan muslim diwilayah mereka dan hanya dibebankan untuk membayar pajak. Dahulu juga, mereka yang non-muslim tidak diganggu kehidupannya jika mereka juga tidak mengganggu kehidupan orang-orang muslim. Bahkan didalam islam pun, Allah tetap memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua yang statusnya non-muslim dan juga tentunya berbuat baik kepada seluruh tetangga, kerabat dan sahabat meskipun yang berbeda agama. Mengapa? Karena sesungguhnya agama islam adalah agama yang damai dan penuh kasih sayang. Agama islam juga diharapkan sebagai rahmat bagi seluruh alam dengan hadirnya sosok Rasulullah SAW yang sejatinya memberikan teladan.

Saat ini, kita juga dapat melihat bahwasanya tidak adanya pembunuhan atau peperangan nyata yang terjadi antara ummat muslim dan ummat non-muslim. Penulis sendiri memiliki teman yang berasal dari berbagai latar belakang agama, seperti Kristen dan budha. Namun, kami masih tetap berteman dan saling bertukar fikiran. Hanya satu yang Allah larang bagi kami ummat islam, yaitu bermusyawarah masalah aqidah dan peribadahan. Hal ini, telah sangat jelas Allah terangkan dalam surat Al-kafirun ayat 1-6 yang artinya “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."

Jadi sangat disayangkan, jika ada yang beranggapan bahwasanya agama islam ini adalah agama yang mengajarkan kekerasan atau mungkin ada yang beranggapan bahwasanya ummat islam ini adalah sosok-sosok yang teroris yang suka membunuh dan berperang. Jikapun ada, beberapa orang islam yang melakukannya dan diberitakan di media-media, maka seperti yang telah penulis katakan diatas bahwa “Manusia adalah tempatnya salah dan lupa”. Ya, ada banyak faktor psikologis yang menjadikan seseorang berperilaku demikian, mungkin saja kurangnya mendalami ilmu agama, pola asuh, lingkungan, kejadian traumatis yang pernah dialami, ekonomi dsb. Dan saya rasa hal seperti ini juga mungkin saja terjadi pada penganut agama-agama lainnya.

Namun, sejauh ini yang penulis ketahui bahwa kita sebagai Bangsa Indonesia adalah bangsa yang taat akan hukum. Segala hal diatur oleh undang-undang, termasuk dengan kebebasan beragama dan menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Oleh karena itu, kepercayaan dan peribadahan ummat beragamapun seharusnya tidak boleh diganggu apalagi dihina karena dapat melanggar undang-undang serta hukum yang berlaku.

Dan hal itulah yang penulis harapkan dari para pemegang kekuasaan yang saat ini sedang memimpin tanah air Indonesia, baik dari pemimpin kota sampai pemimpin yang ada dinegara. Miris, jika kita lihat hukuman akan sangat tajam ditujukan bagi mereka masyarakat kalangan bawah dan menengah dan hukuman akan sangat tumpul jika ditujukan bagi mereka yang memiliki pangkat, jabatan atau harta kekayaan. Ya, penulis sebagai seorang mahasiswi biasa, menuntut keadilan hukum yang ada di Indonesia karena sudah cukup prihatin dengan pembeberan berita-berita yang ada di sosial media ataupun media massa. Sampai detik ini pun, Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintarnya dan penulis juga berharap Indonesia juga tidak kekurangan orang-orang yang jujur, adil dan bermoral.

Toleransi, bukan berarti kami tidak peduli. Selama tidak ada yang saling mengganggu atau menyakiti, maka toleransi akan tetap terjadi. Namun jika perihal agama sudah terusik, maka semoga hukumlah yang akan tegak berdiri. Siapapun, dimanapun dan dari latar belakang apapun sosoknya. Toleransi juga memiliki ambang batas. Jadi, jika agama manapun dinistai, saya rasa tak ada seorangpun penganutnya yang tidak akan peduli.

Semoga tulisan ini tidak akan menyakiti siapapun, baik yang beragama islam maupun pada agama non-islam. Mari sama-sama kita mengerti, memahami arti dari hakikat pancasila yang ke 3 yaitu “Persatuan Indonesia” dan hakikat pancasila yang ke 5 yaitu “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukankan hidup rukun dan damai itu indah?

[Farah Febriani, Prodi Psikologi FK Unsyiah]

Posting Komentar

 
Top