3
Surat Keputusan mengenai pemberlakuan biaya masuk perpustakaan Unsyiah bagi pengunjung non Unsyiah.


Banda Aceh, industrialtimes.net- Terkait dengan dirilisnya surat edaran yang berisi tentang pemberlakuan biaya tiket masuk bagi pengunjung non Unsyiah di Perpustakaan Unsyiah, Taufiq Abdul Gani selaku Kepala UPT. Perpustakaan Unsyiah angkat bicara. Ia membenarkan isi surat edaran itu ketika ditemui di ruangannya, di lantai dua perpustakaan tersebut, pada Kamis (6/10).

Taufiq menyatakan bahwa perpustakaan tidak berbeda dengan lab di fakultas-fakultas, sama-sama merupakan aset Unsyiah. Ia juga mengungkapkan bahwa dana operasional Perpustakaan Unsyiah diperoleh dari 1% biaya SPP mahasiswa setiap semesternya. Hal inilah yang melatarbelakangi biaya tiket masuk tersebut. Sebagai aset Unsyiah, perpustakaan harus menomorsatukan pelayanan terhadap civitas akademikanya sendiri. Dengan demikian, jika mahasiswa Unsyiah harus menyisihkan biaya setiap semesternya, maka dari pengunjung non Unsyiah juga harus dipungut biaya sebagai tiket masuk.

Alasan lain yang disampaikan Taufiq adalah tentang jumlah pengunjung perpustakaan yang tidak sedikit. Dari Unsyiah saja setiap harinya rata-rata terdapat 2.700 pengunjung, bahkan angka tertinggi dapat mencapat 3.300 orang setiap harinya. Dari jumlah ini, setiap bulan terdapat 1.000 pengunjung non Unsyiah. Angka yang luar biasa ini mendulang banyak komplain, seperti kurangnya bangku dan lambatnya internet. Maka dari itu, tidak seperti perpustakaan wilayah, perpustakaan Unsyiah yang merupakan academic library tak bisa lagi menerima pengunjung dari luar secara cuma-cuma.

Surat edaran yang dirilis merupakan bentuk persetujuan dari Rektor Unsyiah dan belum menandai mulai diberlakukannya biaya tiket masuk ini. Pihak perpustakaan sendiri masih dalam tahap persiapan dan realisasinya baru dapat dilakukan sekitar dua minggu mendatang.

“Pertama kita sudah ajukan ke rektor tentang izin pemberlakuannya. Setelah dipertimbangkan oleh rektor beserta jajarannya, maka izinpun diberikan, terlihat dari surat edaran yang sudah dirilis kemarin. Kira-kira realisasinya dapat dilakukan dua minggu lagi. Untuk sementara, hal ini masih dalam tahap persiapan.” ungkap Taufiq.

Beberapa komentar pun bermunculan terkait hal ini, terutama di media sosial. Salah satunya adalah keadaan jika mahasiswa Unsyiah sendiri tidak dapat menunjukkan KTM-nya. Menanggapi hal ini, Taufiq kembali mengingatkan fungsi perpustakaan untuk mendidik. Salah satunya adalah tentang pentingnya KTM dan keharusan untuk membawanya kemana-mana. Untuk itu, bagaimanapun juga mahasiswa Unsyiah harus dapat meunjukkan KTM-nya. Hal ini ditekankan dengan alasan untuk mendata jumlah kunjungan mahasiswa ke perpustakaan yang pada gilirannya nanti data ini dapat digunakan untuk keperluan akreditasi. [JA]

Posting Komentar

  1. Kenapa harus di kutip biaya nya.Jika orang tidak mampu yang ingin pintar tanpa biaya, bagaimana nasib mereka. 5.000 adalah angka yg lumayan besar.Alumni Unsyiah

    BalasHapus
  2. ada kata yang keliru di judul, "berlalukan" seharusnya "berlakukan". sehingga malu jadinya nampak judul aneh pas di share oleh FB pustaka unsyiah

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf kesalahan teknis, sudah kami perbaiki

      Hapus

 
Top