0
Banda Aceh, Industrialtimes.net- Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, telah mengirim surat edaran larangan melakukan ospek dengan kekerasan. Larangan tersebut ditujukan kepada perguruan tinggi negeri maupun swasta.
 
Nasir menyebutkan, bagi perguruan tinggi yang tidak menaati peraturan, akan mendapat sanksi akademik dari perguruan tinggi masing-masing. Pasalnya, setiap perguruan tinggi memiliki rambu masing-masing.

"Tidak ada ospek menggunakan kekerasan. Sudah ada surat edaran. Jika masih melanggar akan terkena sanksi akademik," kata Nasir yang ditemui di usai Rapat Penetapan Perubahan Alokasi RAPBN Perubahan 2016 sesuai pembahasan di Badan Anggaran (Bangar) di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin, (27/6).

Dia mengatakan, ospek berbau kekerasan hanya berlaku pada zaman dulu saat dirinya kuliah. Untuk saat ini,  tuturnya, tidak boleh terjadi lagi, karena sekarang sudah digital. Dia menuturkan, ketika kuliah diospek selama satu minggu dan harus berangkat jam 04.00 pagi dan pulang 10.00 malam dengan pakaian yang tidak pernah diganti.

Sementara itu, untuk atribut ospek yang tidak ada tekanan hanya sebatas indentitas, menurut Nasir, masih sah-sah saja. Namun, jika ada unsur penekanan dan intimidasi yang membebankan calon mahasiswa tidak diperkenankan.

Dia menuturkan, ketika menjabat sebagai dekan di Universitas Diponegoro (Undip), ia pernah mengeluarkan mahasiswa. "Saya pernah skorsing mahasiswa selama satu tahun, jadi sanksi itu balik lagi pada perguruan tinggi masing-masing, tetapi secara umum dengan keras melarang adanya ospek penuh perpeloncoan," tandasnya.
Maria Fatima Bona/PC

Sumber : Beritasatu.com

Posting Komentar

 
Top