1
Pokemon Go Gameplay Published on July 16th, 2016 | by Indira Subaktyo
Industrialtimes.net - Dunia sedang digoncang kegilaan karena sebuah permainan. Permainan bernama Pokemon Go ini membuat berbagai kalangan ikut berpartisipasi memainkannya. Meskipun Indonesia belum termasuk negara yag mendapat jatah rilisan permainan, tetapi tetap saja ngeyel dan membajak APK permainan tersebut.
Terima kasih kita ucapkan pada mahasiswa-mahasiwa pemrograman dan informatika karena telah menyiapkan APK yang bisa diunduh. Namun semestinya kita lebih cermat untuk memperhatikan dampak Pokemon Go terhadap kehidupan mahasiswa secara lebih holistik. Ada mahasiswa-mahasiswa yang diperbolehkan dan yang seharusnya tidak boleh bermain game Pokemon Go. Berikut klasifikasinya.
1. Mahasiswa yang lagi tugas akhir
 “Kan bisa buat refreshing waktu ngerjain skripsi,” gitu alasannya. Tai banteng alias bullshit. Main Pokemon Go itu harus keliling jalan-jalan. Pun bisa menjelajah ke tempat yang jauh. Padahal ngerjain skripsi harus ndekem depan laptop di rumah atau perpus. Lha kalau ditinggal jalan-jalan, siapa yang ngerjain tugas akhirnya?
2. Mahasiswi yang revisiannya ditolak dosen terus
Revisi ditolak dosen itu bakal bikin kita stres. Sekali atau dua kali sih tidak apa-apa. Tetapi kalau sampai berkali-kali, itu adalah sumber malapetaka. Nah bayangkan mahasiswa yang skripsinya berulang kali ditolak dosen kemudian beralih menjadi Pokemon Trainer? Pasti para pokemon pun menolak untuk ditangkap oleh dia. Jadi mending jangan main Pokemon Go kalau kamu adalah mahasiswa golongan ini.
3. Mahasiswa yang latah tren Pokemon Go
Golongan ini adalah golongan paling nista. Pokemon Go dibuat untuk membahagiakan fans Pokemon yang setia menonton semenjak Ash berteman dengan Mistiq dan Brock. Dari serial Pokemon Gameboy Blue, Red Green sampai generasi  Nintento Omega Ruby dan Alpha Sapphire. Bukan buat fans karbitan yang hanya selo-seloan doank.
4. Mahasiswa jurusan keolahragaan
Nah kalau mahasiswa jurusan keolahragaan macam pendidikan guru olahraga, atletik, dan sebagainya justru wajib bermain Pokemon Go. Contohkan saja fakultas keolahragaan di UNY. Para mahasiswa di fakultas tersebut dapat berolahraga sambil mengangkap Pokemon. Misalnya lari pagi untuk menjaga stamina sambil berburu Pokemon. Pikiran senang, dengkul dan kempol pun jadi kekar bin kencang.
5. Mahasiswa pemrograman pun juga wajib ikut serta
Lho, kenapa mahasiswa pemrograman wajib ikut serta bermain Pokemon Go? Soalnya di pundak mereka para pemain-pemain Pokemon Go di dunia menyandarkan harapannya. Contohnya mahasiswa pemrograman AMIKOM dan AKAKOM. Contohnya ketika kita lelah untuk berkeliling, kita bisa meminta mahasiswa pemrograman untuk meretas jaringan agar memunculkan pokemon di depan kita. Dengan begitu kita bisa mengirit waktu dan ongkos perjalanan.
Semboyannya bukan lagi “gotta catch ‘em all”, tetapi diganti “gotta hack ‘em all”. Uye!
6. Mahasiswa yang mengidap penyakit jomblo akut
Kenapa mahasiswa yang sudah jomblo menahun harus bermain Pokemon Go? Soalnya ini demi membiasakan mereka agar terbiasa mengejar sesuatu. Mengejar pokemon saja tidak bisa, gimana mau ngejar wanita?
7. Mahasiswa yang sudah wisuda
Kok mahasiswa yang sudah wisuda malah harus bermain game? Kan aneh. Tenang Bro dan Sist sekalian, jawabannya sederhana. Ini karena setelah wisuda, kamu akan terjun langsung ke kehidupan nyata yang keras. Maka dengan terbiasa berkeliling untuk mencari Pokemon, kamu bisa melihat realita dunia. Sekalian keliling ke kantor-kantor untuk masukin lowongan pekerjaan.
 Sumber : Jogjastudent.com


Posting Komentar

  1. Suka main Pokemon Go? Gunakan permainan anda untuk mendapatkan hadiah menarik. Cuman dengan merekam anda bermain dalam bentuk VLog lho..
    Info lengkap : http://www.portalbisnisbersama.com/p/vlog-pogo.html

    BalasHapus

 
Top