1
ilustrasi
IndustrialTimes.net - Mendengar kata wanita atau perempuan, yang terbesit dalam benak kita adalah mereka yang ahli dalam hal masak-memasak, mencuci, menghitung keuangan, berdandan dan hal-hal yang berbau feminis lainnya. Meski, tak jarang pula kita jumpai ada beberapa wanita yang senantiasa berjuang untuk mempertahankan kesejahteraan daerahnya dan berbuat untuk sesama. Di Aceh, Cut Nyak Dhien, Cut Mutia dan Laksamana Malahayati, contohnya. Mereka adalah para wanita yang tidak hanya berdiam diri di kamar dan rumah-rumah mereka, menyingsing keberanian yang mereka punya, berjuang segenap jiwa dan raga untuk mengusir para penjajah yang merajalela. Berhasilkah? Ya, hadirnya mereka dapat mengubah stigma masyarakat dunia bahwa wanita tidak hanya apa yang kita pandang sebelah mata. 

Dahulu kala, di saat islam menjadi agama pemula, ingatkah kalian dengan sosok Tsumayyah? Ia adalah syahidah pertama yang rela mempertahankan aqidahnya demi tauhid yang tersimpan dihatinya. Lalu, ibunda Khadijah yang dengan seluruh kekuatan, kekayaan dan tangisan dalam setiap asam manis perjuangan, rela ia korbankan sehingga islam berjaya dan tersebar ke seluruh dunia. Di daerah Jawa, ada RA. Kartini yang selalu berusaha untuk mengangkat derajat dan martabat wanita dengan buku yang ia angkat dari ayat al-quran “Minadz dzulumaati Ilannurr (Habis Gelap Terbitlah Terang)". Ia ingin para wanita dapat merasakan bangku pendidikan dan kesetaraan dalam hal hak asasi yang dahulu belum tertuliskan. 

Dan kini, siapakah sosok perempuan yang akan meneruskan perjuangan mereka? Apakah saya? Anda? Kita? Atau Tidak ada? Semua jawaban kembali kepada diri kita masing-masing. Ingin terus memperjuangkan atau hanya menjadikan sejarah sebagai kenangan yang akan dibanggakan di masa depan. Lalu, apa peran perempuan bagi perubahan dan pembangunan daerah? Apakah kita cukup dengan memikirkan kesejahteraan hidup kita sendiri? Setelah bertahun tahuan para pejuang bersusah payah untuk menjadikan wanita sebagai sosok yang dihormati, sosok yang disegani, bahkan sosok yang tidak lagi dikubur secara hidup-hidup karena harus menanngung malu? Tidak! Tidak, wahai sahabat!

Mungkin kita dapat memulainya dari diri sendiri. Pepatah mengatakan ”Baik buruknya sebuah negara tergantung pada akhlaknya wanita, jika buruk akhlaknya maka runtuhlah negara tersebut, sebaliknya jika mulia akhlaknya maka sejahteralah Negara tersebut”. Dengan demikian, kesopanan, kepribadian, kecerdasan adalah hal-hal yang harus dimiliki oleh para wanita untuk mengubah negaranya. Selanjutnya, sebagai wanita yang nantinya akan menjadi ibu, tentunya ia akan mendidik generasi yang akan menjadi pemimpin negri ini. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Jika pendidikan dan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua sudah memadai, maka akan terciptalah generasi-generasi pemuda yang taat agama dan berguna bagi sesama. Insya Allah. Wanita juga makhluk multitalenta, dapat mengerjakan segala hal dalam waktu yang sama. Oleh karena itu, wanita perlu untuk diberdayakan dengan segala potensi yang mereka punya. Merajut, menjahit, merawat, membuat kerajinan adalah keahlian yang dimiliki oleh kaum wanita. Bayangkan, jika semua wanita di Indonesia memiliki kreatifitas, maka tingkat kemiskinan akan dapat ditanggulangi. Mereka akan berkembang menjadi pengusaha, desainer, dokter yang penghasilannya dapat menurunkan tingkat kemiskinan negara. Setuju? 

Untuk mencapai ketahap tersebut, wanita juga harus menempuh pendidikan atau pelatihan yang cukup. Dengan demikian, pemerintah diharap untuk lebih memperhatikan para wanita yang putus sekolah agar dapat kembali bersekolah dengan bantuan yang dibutuhkan. Mungkin saja dengan kemampuan dan skill yang mereka miliki, mereka dapat membuat sekolah gratis bagi anak-anak kurang mampu atau pengobatan gratis bagi pasien yang membutuhkan. Who knows? Selanjutnya, wanita juga harus kuat dan tegar. Sejarah telah membuktikan bahwa wanita itu tidak lemah.  Mereka juga terjun dalam peperangan atau sekedar mengobati para pasukan yang terluka. Sehingga, ketika ia dibebankan oleh amanah Negara, ia mampu untuk memikulnya. 

Untuk berada dalam tahapan ini, wanita juga butuh ilmu bela diri, olahraga, mengkonsumsi makanan sehat dan aktifitas yang dapat menunjang kekuatan mental-fisik lainnya. Selain untuk mengemban amanah Negara, juga untuk  mengurangi tingkat kekerasan bagi kaum wanita yang terus melaju setiap tahunnya. Perlu diperhatikan juga bagi kaum perempuan, bahwa menjaga diri itu adalah hal yang utama. Di sisi lain, wanita juga harus pandai berwirausaha dan menulis. Mengapa? Dari kedua hal tersebut, wanita bisa mengeluarkan aspirasi dan kemampuan yang ia miliki. Sehingga tak ada lagi diskriminasi yang kita lihat pada kaum wanita seperti jaman-jaman penjajahan terdahulu. Wanita bisa mandiri, pandai menjaga diri dan tentunya bermanfaat bagi negri ini. Yuk, Jadi wanita yang bawa perubahan bukan menjadi wanita yang selalu bawa perasaan! Jadilah wanita lini masa, sang pembawa seberkas cahaya yang hadirnya selalu dinanti oleh setiap pasang mata. 

[Farah Febriani, Juara 1 Lomba Menulis Opini kategori umum Teknik Industri 2016]

Posting Komentar

 
Top