0
 SMEN 2016
Banda Aceh, Industrialtimes.net - Perkembangan dunia infrastruktur Indonesia selaku negara berkembang mendapat perhatian lebih dari perusahaan semen terbesar di Indonesia. PT Semen Indonesia berencana memperluas jaringannya dengan kembali membangun dua anak perusahaannya di dua daerah Indonesia, salah satunya di kawasan Pidie pada 2017 mendatang. Dalam mendukung pengembangan mahasiswa Aceh, khususnya bidang teknik penambangan, serta kelancaran operasi proyek tersebut, PT Semen Indonesia bersama Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTP) Unsyiah mengadakan kuliah tamu dengan mengusung pokok pembahasan 'Jangan Takut Bersaing'. Melalui kegiatan SMEN 2016 (Syiah Kuala Mining Engineering Competition), kuliah tamu ini akan disampaikan langsung oleh Sigit Wahono selaku Kepala Biro Komunikasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Kegiatan tersebut merupakan pembuka  acara  SMEN 2016 yang akan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Aceh di Balee Keurukon, Fakultas Teknik,  Jum’at (29/4). 

Berikut ini merupakan sekilas materi atau pembahasan dari kuliah tamu yang lebih membahas mengenai perubahan pola kegiatan dan pola perkembangan dengan terus menjunjung peningkatan kemampuan, “Zaman sudah berubah. Ada perubahan besar yang mendorong kita semua harus positioning.” tutur Ir. Suparni selaku Dirut Semen Indonesia dalam rilis yang diterima oleh tim Industrialtimes.net.

Periode 2015-2020 menjadi masa sulit bagi industri persemenan di tanah air. Penambahan kapasitas oleh produsen lama dan masuknya pemain baru pasca berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan membuat kompetisi semakin ketat. Kendati berat, tapi tidak ada alasan bagi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk untuk pesimis, melainkan harus tetap optimis serta semangat untuk memenangkan persaingan. Lingkungan bisnis global yang sedang berubah, mau tidak mau, membuat Semen Indonesia harus mengikuti perkembangan zaman.

Berlakunya MEA adalah periode survival, di mana yang tidak kuat bersaing akan tenggelam dengan segera. Misi Semen Indonesia tidak hanya, tapi harus mampu mempertahankan market share 44 persen. Bukan perkara gampang, mengingat para kompetitor pasti tidak tinggal diam. Semuanya berpikir keras untuk mendongkrak performa masing-masing. Dirut Semen Indonesia, Suparni, mengakui bahwa dibutuhkan perjuangan segenap karyawan untuk mewujudkan target korporasi tersebut.

Antisipasi mesti dilakukan sejak awal, terutama soal penguatan personal values and organizational values. Muaranya adalah mencapai kinerja unggul. Korporasi pelat merah ini siap bertarung, baik sprint (jangka pendek) maupun marathon (jangka panjang). Modal utamanya adalah semua competitive advantage, mulai dari sisi produksi, pemasaran, jaringan distribusi, dan lainnya.

Dirut kelahiran Ngawi, 13 Desember 1958 tersebut mengungkapkan, Semen Indonesia akan melakukan strategi pengembangan bisnis yang tepat untuk menghadapi persaingan. Dimana meliputi pengembangan kapasitas, pengamanan energi, peningkatan corporate image, pendekatan pelanggan serta peningkatan pertumbuhan perusahaan dan pengelolaan risiko.

Sumber Daya Manusia (SDM) diyakini menjadi modal terbesar bagi Semen Indonesia menghadapi dan memenagkan persaingan saat ini. Kehebatan dan ketepatan mengelola SDM akan menjadi penentu di tengah ketatnya persaingan yang makin dahsyat. Apakah perusahaan bakal menjadi pemenang atau pecundang.

Semua pihak harus memahami bahwa situasi sudah berubah begitu cepat. Budaya proaktif, partisipatif dan inovatif dengan semangat kebersamaan yang tinggi sangat diperlukan. Konsepnya adalah cepat, banyak, tertata, dan kompak.

Ekspansi

Ekspansi merupakan bukti optimistis yang senantiasa dipegang oleh korporasi. Persaingan boleh semakin sulit, namun perkembangan Semen Indonesia juga akan semakin melejit. Harus diakui Indonesia masih menjadi pasar yang menjanjikan bagi industri semen dunia. Apalagi proyek infrastruktur dalam empat tahun ke depan akan terus bergulir.

Oleh sebab itu, Semen Indonesia telah mempersiapkan pembangunan dua pabrik baru di Rembang (Jateng) dan Indarung (Sumbar) yang ditarget sudah beroperasi akhir tahun ini. Dengan selesainya kedua pabrik tersebut maka kapasitas produksi Semen Indonesia bertambah menjadi 37,8 juta ton per tahun. Rencana pembangunan pabrik baru di Aceh dan di Kupang juga merupakan langkah ekspansi yang akan segera dilakukan korporasi.

Selain upaya di atas, efisiensi dilakukan dengan mengoptimalkan biaya distribusi, terutama pengiriman dari pabrik ke pasar yang jauh dan minim infrastruktur, perusahaan berusaha secara optimal dengan menyinergikan semua fasilitas group. Saat ini, Semen Indonesia telah memiliki 26 unti packing plant yang tersebar dari Sabang samapi Merauke.

“Semen Indonesia bersama anak-anak perusahaannya siap merespon segala persaingan serta pertumbuhan konsumsi semen di Tanah Air.” Tandas Suparni. 


Editor : Tarmizan

Posting Komentar

 
Top