0
Suasana Talkshow pembahasan LGBT di Aula Fakultas Hukum (foto: Susy Susila Dewi/IT)

Banda Aceh, industrialtimes.net– Keresahan masyarakat akan hadirnya LGBT membuat permasalahan ini menjadi semakin ramai diperbincangkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa LGBT telah merambat luas bahkan sampai ke Aceh. Menanggapi hal tersebut, BEM Fakultas Hukum Unsyiah menggelar talkshow terkait isu ini di Aula Fakultas Hukum, senin (7/3).

Tak tanggung-tanggung, talkshow bertajuk “LGBT Marak, Apa Sikap Kita?” ini dihadiri oleh lima narasumber dari berbagai bidang, diantaranya: Prof. Dr. H. Syahrizal Abbas, MA. (Kepala Dinas Syariat Islam Aceh), Tgk. Faisal Ali (Wakil Ketua MPU), Dahlia, S.Psi, M.Sc (psikolog), dr. Subhan Rio Pamungkas, Sp.K.J (psikiater), dan Bakti, S.H., M.Hum (akademis). Bahkan Wali Kota Banda Aceh, Iliza Sa’aduddin Jamal, juga terlihat ikut mengisi acara.

Salah seorang narasumber, dr. Subhan Rio Pamungkas, terkait hubungan LGBT dengan kejiwaan manusia, menyatakan bahwa lesbian, gay, dan bisexual adalah masalah kejiwaan yang terpisah dengan perilaku transgender.

“LGB dan T seharusnya tidak boleh digabungkan karna sesungguhnya LGB dan T itu adalah sesuatu yang berbeda. Seorang transgender adalah orang yang tidak mau menerima kenyataan bahwa dia adalah seorang laki-laki atau perempuan, cenderung merubah diri, dan menyukai sesama jenisnya. Oleh karna itu, transgender dimasukan kedalam gangguan kejiwaan. Sedangkan LGB adalah orang dengan gangguan orientasi seksual, dimana mereka menyukai sesama jenis dan nyaman melakukan perilaku seks sesama jenis namun masih berperilaku seperti manusia normal lainnya. Sehingga LGB dikatakan masuk dalam masalah kejiwaan dan belum dalam kategori penyakit kejiwaan”, ungkapnya.

Terkait hubungan LGBT dengan bawaan lahir atau faktor lingkungan, Dahlia menjelaskan bahwa perilaku LGBT dipengaruhi oleh pola asuh anak, pengaruh lingkungan, dan pengalaman kromatis pada waktu kecil.

 “Seseorang dapat menjadi LGBT jika dilihat dalam pandangan psikologis. Faktor biologis dapat sedikit diabaikan namun lebih kepada bagaimana pola asuh anak yang dilakukan orang tua. Bukan hanya itu saja, pengalaman kromatis pada waktu kecil dan pengaruh lingkungan juga dapat berkontribusi. Pengalaman keras yang didapat anak sejak kecil, misalnya perilaku sodomi yang dilakukan orang lain terhadapnya, membuat seseorang cenderung menyimpannya dalam memori ingatan, ketika dewasa ingatan ini akan muncul, dan ada keinginan untuk mencobanya. Setelah melakukan, akhirnya timbullah kecanduan. Oleh karna itulah faktor ini tidak dapat diabaikan dalam menyebabkan seseorang menjadi LGBT”, terangnya.

Pada sesi tanya jawab, seorang undangan bernama Rifki Hasmud menyatakan bahwa LGBT juga manusia yang berhak diberikan hak untuk sekolah, melakukan aktifitas-aktifitas dan mendapatkan hak-hak seperti orang lain. Pelaku LGBT bukan harus di binasakan namun harus dibimbing, dalam artian jangan mendeskriminasikan apalagi dengan melakukan tindak kekerasan karena seseorang menjadi LGBT mungkin terjadi karena masalah kejiwaan. Rifki menambahkan, jika kita menilai mereka salah, berarti kitalah yang salah.

Menanggapi argumen tersebut, Iliza berkomentar, “Islam tidak pernah menyuruh pemeluknya untuk menyelesaikan semuanya dengan kekerasan karena islam itu indah. Semua hukuman yang dilakukan, berdasarkan banyak syarat-syarat yang harus terpenuhi, tidak boleh sembarangan dilakukan dan LGBT bukan sesuatu yang benar-benar harus dihukum. Jika LGBT benar-benar dikaitkan dengan penyakit, maka segera laporkan kepada kami. Ayo sama-sama kita bantu asalkan benar-benar ada kemauan untuk merubah diri. Namun jika orang tersebut melakukan tindakan seks yang tak pantas lainnya dan ketahuan, coba saja, hukum pasti berlaku.”

Terlepas dari apakah LGBT merupakan sesuatu yang harus kita jauhi atau tidak, pelaku LGBT harus diajak untuk merefleksi diri dan kembali menjadi manusia sesungguhnya. Menjadi LGBT itu adalah pilihan pelakunya. Semua orang yang terjangkit LGBT harusnya bisa di sembuhkan tergantung pilihan dari diri masing-masing untuk berubah. [SSD]

Posting Komentar

 
Top