0
Foto : Ilustrasi
Industrialtimes.net - Tidak selamanya kuliah itu “lempeng-lempeng aja”. Ada masanya dimana kita dihadapkan pada saat-saat berat mendekati semester-semester akhir. Hal yang paling “greget” adalah skripsi. Skripsi merupakan tugas final yang harus dijalani setiap mahasiswa. Percaya atau tidak, skripsi sendiri sudah menjadi momok bahkan sejak semester awal. Namun jangan takut. Untuk yang akan menjalani pembuatan skripsi, kami punya tips-tipsnya.

Rencanakan kapan mau lulus
Merencanakan kapan mau lulus berkaitan dengan dua hal, pertama adalah tingkat kesulitan topik tugas akhir serta rencana pengerjaan skripsi. Hal yang pertama berkaitan biasanya dengan pemilihan topik dan tingkat kesulitan skripsi. Biasanya sih, dosen pembimbing yang baik akan bisa memperkirakan kemampuan sang mahasiswa serta target mahasiswa itu lulus. Dosen pembimbing memberi tingkat kesulitan kepada mahasiswanya, dimana disesuaikan dengan target lulus sang mahasiswa. Kalau target lulusnya akhir tahun, maka wajar bila diberikan skripsi dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan yang targetnya pada awal tahun ajaran (ini disesuaikan dengan jadwal wisuda yang terdapat di awal dan akhir tahun ajaran).
Bijaklah dalam memilih topik skripsi
Banyak mahasiswa tingkat akhir yang tidak menyukai topik skripsinya sendiri. Atau ada juga yang kehilangan gairah di tengah jalan karena sudah muak dengan topik skripsinya. Ketidaksukaan ini biasanya didasari oleh dua hal, yang pertama topik skripsi yang dipilihin oleh dosen pembimbing (kalau ini sih kayaknya sudah “nasib” ya?). Jika hal ini terjadi, maka sang mahasiswa harus melakukan negosiasi terhadap dosen pembimbingnya tersebut. Jangan hanya asal terima lalu akhirnya kesulitan sendiri. Yang kedua adalah mahasiswa tersebut tidak melakukan studi awal terhadap topik pilihannya, hanya karena ada sekedar ide atau meniru dari orang lain hingga akhirnya mengalami kesulitan sendiri atau yang lebih parah merasa muak dengan topiknya sendiri. So, pilihlah topik skripsi dengan bijak. Jangan yang terlalu mudah sehingga tidak ada tantangan, tapi juga jangan terlalu sulit hingga tidak realistis untuk menyelesaikannya. Pengerjaan skrispi seharusnya membuat mahasiswa menjadi gemar bekerja dengan mandiri, mempertajam kemampuan mengolah data dan menganalisis hasil yang diperoleh.
Waktu yang (terlalu) banyak 
Biasanya, skripsi dikerjakan ketika SKS kuliah sudah sedikit atau bahkan sudah tidak ada sama sekali. Hal ini menjadikan waktu mahasiswa menjadi lebih banyak. Waktu yang banyak apabila dikelola dengan baik akan menjadi sumber daya yang berharga saat mengerjakan skripsi. Bahkan menurut saya sih, lebih berharga dari uang transport sisa karena mengkarantina diri sendiri di lab kampus atau di rumah. Namun, kalau waktu tersebut tidak dikelola dengan baik, maka mahasiswa tersebut akan punya kebiasaan “menunda”. Hal ini yang membuat skripsi menjadi tak kunjung selesai.
Waktu yang fleksibel
Waktu yang banyak juga merupakan wkatu yang fleksibel. Mahasiswa tingkat akhir dapat mengerjakan skripsi kapan saja. Tips nya adalah bekerja lah ketika jam biologis kita ada di saat-saat “alert” atau terjaga dengan baik. Contoh: Saya akan punya konsentrasi dan mood yang lebih baik ketika bekerja pagi hari dan sore hari (kadang hingga diri hari), so saya akan mengerjakan hal yang terpenting pada masa-masa waktu tersebut. So, tanya kepada diri sendiri “kapan saya memiliki konsentrasi dan mood yang paling baik?”
Jangan ngilang dari hadapan dosen pembimbing
Mahasiswa menghindar dari dosen pembimbing biasanya karena “ga ada progress” sehingga malu untuk “menghadap”. Rasa malu ini kemudian menjadi rasa “enggan” lalu menjadi “malas” dan akhirnya benar-benar skripsinya tidak akan pernah selesai.
Kalau menemui kesulitan, ya datangilah dosen pembimbing karena itu adalah tugasnya yakni untuk membimbing. Dosen pembimbing memiliki pengalaman yang tidak kita punya, yang bisa ia bagikan kepada kita. So, kalau sekarang anda lagi “buron” dari dosen pembimbing, ya temuilah dosen tersebut dan bicarakan masalah anda.
Selesaikan “bottle neck” secepatnya 
Dalam perjalanannya, pengerjaan skripsi akan menemui “bottle neck” atau “bump”. Hal ini bisa persamaan yang tidak cocok, parameter yang masih belum ketemu, alat yang tidak terkoneksi atausoftware yang selalu error. Hal seperti ini harus diselesaikan dan jangan dibiarkan.
Karena kalau dibiarkan, lama-lama kita akan muak dan tidak ada gairah untuk menyelesaikan bottle necktersebut. Ada baiknya bertanya kepada dosen pembimbing, membaca buku teks atau bertanya kepada orang lain yang dirasa memiliki pengalaman yang lebih banyak dari kita.

Cicil menulis
Mungkin ada saatnya kita jenuh ketika mengerjakan penelitian, saat seperti ini bisa digunakan untuk mencicil menulis. Mulailah dengan sekedar membuat layout skripsi seperti margin, spasi, judul bab dsb. Saya rasa bab 2 atau biasa dikenal dengan bab landasan teori adalah bab yang mudah untuk ditulis dahulu bahkan sebelum penelitian kita selesai. Bab landasan teori adalah bab yang merangkum teori yang kita gunakan dalam penelitan. Saya rasa bab ini adalah bab yang paling mudah untuk dicicil terlebih dahulu.
Terbiasalah dengan kata “revisi”

Setelah selesai menulis baik bab yang saling lepas atau skripsi secara keseluruhan, maka dosen pembimbing akan memeriksa hasil penulisan kita. Saat seperti inilah ketika kita harus me-revisi pekerjaan kita, baik revisi minor atau mayor. Revisi bisa berupa hal kecil seperti format penulisan, salah penulisan, urutan sub-bab yang keliru, format gambar, format tabel dsb. Hal-hal seperti ini terkadang menguras emosi. Revisi juga bisa berupa hal yang prinsip, seperti kurangnya landasan teori atau kurangnya referensi dari buku/artikel. So, terbiasalah dengan “revisi”, selesaikan anjuran revisi dari dosen pembimbing dengan cepat maka skripsi akan cepat selesai. 
Sumber : https://chrisphdlife.wordpress.com

[Editor: Tarmizan]

Posting Komentar

 
Top