0

Ilustrasi

Tapaktuan, Industrialtimes.net - Sarjana merupakan kata idaman setiap mahasiswa. Menyandang gelar sarjana berarti mahasiswa berada pada titik puncak perjuangan untuk dapat terjun ke dunia kerja. Tapi apakah gelar sarjana menjadi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan di dunia yang penuh akan persaingan? Tentu saja tidak. Dalam mendapatkan pekerjaan, persaingan yang akan dihadapi ibarat perang. Siapa yang lihai dalam menembak sasaran dan pintar dalam membuat strategi, dia lah yang akan menang. Karena itu, setiap sarjana harus mempunyai pontensi diri atau skill yang akan ditawarkan sebagai senapan yang siap membidik sasaran pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya. Tidak cukup hanya dengan menyandang gelar sarjana, kita dapat menang bersaing dalam memperebutkan kursi kerja di lapangan. 

Menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef) tahun 2014-2015, tingkat pengangguran meningkat dari 7 persen menjadi 7,5 persen. Yang paling disayangkan, banyak dari pengangguran tersebut merupakan para sarjana. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena kebanyakan sarjana di Indonesia tidak pandai melihat peluang kerja. Alih-alih membuka lapangan pekerjaan sendiri, mereka hanya berharap dari pembukaan lapangan pekerjaan oleh pemerintah, lembaga atau perusahaan tertentu. Inilah budaya yang seharusnya dibasmi oleh para sarjana yang berpendidikan untuk dapat membangun Indonesia yang lebih maju. Sarjana di Indonesia tentunya tidak sedikit, beribu sarjana yang lulus dari berbagai universitas di Indonesia. Jika semua sarjana bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, tentunya lowongan yang ada tidak dapat menampung seluruh sarjana. Lantas apa yang harus dilakukan? Jawabannya tentu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Hal ini juga akan sangat berguna bagi orang-orang disekeliling kita karena dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada. 

Kesalahan yang sering dilakukan para sarjana sehingga menjadi pengangguran dan titel sarjana hanya menjadi pelengkap nama saja ialah terlambatnya merancang rencana untuk masa depan. Sebelum mendapat titel sarjana, mahasiswa biasanya hanya fokus agar lulus dengan IPK yang memuaskan dan lupa akan rencana ke depannya, untuk apa dan kemana IPK tersebut dibawa. Intinya, sebelum menjadi seorang sarjana, seharusnya kita sudah mempunyai target pekerjaan apa yang akan kita lakukan. Terkadang kita berfikir menganggur setahun atau dua tahun bukan merupakan suatu masalah. Tetapi, bukankah sarjana merupakan orang berpendidikan yang sudah dibina untuk dapat terjun langsung ke dunia kerja? Sarjana tidak harus selalu menjadi PNS ataupun karyawan swasta. Sarjana bisa menjadi apa saja karena mempunyai gelar sarjana berarti mempunyai sesuatu yang lebih dari orang lain, yaitu ilmu. Ilmu inilah yang seharusnya kita manfaatkan untuk dapat bersaing dalam dunia kerja. [Feneubrina Bainirat/IT]
         

Posting Komentar

 
Top