0

Logo Komunitas Receh Indonesia


Banda Aceh, Industrialtimes.net – Kegiatan pelatihan kepemimpinan mahasiswa se-Indonesia di Bandung, Jawa Barat, pada pertengahan 2013 lalu sepertinya telah membawa manfaat yang cukup besar. Selain memang tujuan awalnya adalah membekali mahasiswa Indonesia dengan jiwa kepemimpinan, ternyata juga terdapat cerita menarik di belakangnya.

Berawal dari peserta pelatihan tersebut, ternyata ada beberapa orang yang diketahui suka menabung uang receh. Padahal uang receh sering kali dianggap tidak berharga, namun sangat berbeda di mata mereka. Oleh mereka, uang receh pun disulap menjadi sesuatu yang positif hingga akhirnya turut memotivasi dan menggerakkan hati  peserta lain untuk melakukan hal yang sama, yakni menabung uang receh.

Selanjutnya, beranjak dari hal itu dengan segala pertimbangan dan kesepakatan, terbentuklah suatu komunitas sosial yang didasari dari kesamaan hobi, yaitu menabung uang receh yang dikenal dengan nama Komunitas Receh Indonesia (KRI). Komunitas ini pun terus maju bahkan telah menjamur di seluruh provinsi di Indonesia dan memiliki ketua serta badan koordinasi sendiri untuk tiap – tiap regionalnya.

Meskipun bernama komunitas receh Indonesia, faktanya komunitas ini tidak melulu terfokus tentang menabung uang receh saja. Komunitas ini juga bergerak di bidang sosial dan pendidikan yang memiliki banyak tim dan relawan yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum. Tentu, dengan tujuan utamanya adalah memperbaiki sedikit demi sedikit kehidupan dan pendidikan masyarakat Indonesia terkhusus di daerah pelosok.

Di Aceh sendiri, komunitas receh Indonesia terbentuk pada tanggal 8 Februari 2016 dengan pusatnya di Banda Aceh. Cerita pembentukannya ini bermula dari Vina Syafrianti, seorang mahasiswi ilmu politik angkatan 2014 Universitas Syiah Kuala saat pulang ke kampung halamannya di Sumatera Barat. Ia bertemu dengan salah seorang temannya yang tergabung dalam organisasi Seribu Guru dan merupakan ketua KRI regional Sumatera Barat. Terjadilah kesepakatan bersama untuk membentuk KRI di Aceh yang akhirnya mempercayakan Vina sebagai pendiri sekaligus ketua KRI regional Aceh.

Demi membesarkan KRI Aceh pada awal pembentukannya, vina pun gencar melakukan promosi dan mengajak mahasiswa dari berbagai organisasi, termasuk BEM Unsyiah, untuk turut serta berkomitmen membangun KRI Aceh. Alhasil, tidak tanggung – tanggung, belum genap sebulan pembentukannya, KRI Aceh telah memiliki 18 orang pengurus inti serta 60 orang pendaftar yang nantinya akan tergabung dalam keanggotaan KRI Aceh. Bahkan, keseriusan komunitas sosial ini juga ditunjukkan dengan terjalinnya kerjasama dengan beberapa organisasi, siaran radio, cafe, serta beberapa perusahaan di Aceh.

Dan layaknya organisasi pada umumnya, KRI Aceh juga memiliki beberapa program kerja, yaitu mentoring, positive fighter, partnership, dan donasi. Mentoring sendiri merupakan program yang menjadikan KRI Aceh sebagai tenaga pengajar di beberapa SD dan SDLB sekaligus memotivasi agar siswa suka menabung dan peduli terhadap sesama. Positive fighter adalah program yang bergerak dalam penggalangan dana dan pencarian donasi untuk nantinya disalurkan ke masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk sembako. Adapun partnership yaitu program untuk menjalin kerja sama dan mencari donatur sebanyak – banyaknya untuk event – event yang akan dilaksanakan. Sedangkan donasi merupakan program untuk memberikan sumbangan bagi tempat sosial yang dikunjungi KRI. Namun, tidak tertutup kemungkinan juga akan terbentuknya program baru lainnya melalui ide – ide dari anggota-angota KRI nantinya.

Akhirnya, Vina berharap dengan terbentuknya komunitas sosial ini, masyarakat dan khususnya mahasiswa, sadar betul tentang pentingnya berbagi dan peduli terhadap sesama. “Saya berharap sebagai mahasiswa tunjukkanlah bahwa kita adalah agent of change, bukan peduli di lisan saja, tapi juga terjun ke lapangan.” Ungkap Vina. [GAS].

Posting Komentar

 
Top