0

Universitas Syiah Kuala


Banda Aceh, Industrialtimes.net - Unsyiah, belum lama terasa hangatnya sinar kebangkitan pendidikan di universitas yang dicintai ini. Sekian lama telah menanti, akhirnya universitas kebanggaan rakyat Aceh ini pun menjadikan hal yang pasti. Akreditasi “A” pun akhirnya tersemat, yang menjadikannya turut melekat pada hati setiap mahasiswa jantong hate rakyat Aceh. Rasa syukur pun hadir mengiringi babak baru Unsyiah demi Aceh yang lebih baik. Dan 'Bangga Menjadi Unsyiah' pun menjadi semboyan baru bagi para mahasiswanya.

Namun, indahnya rasa bangga itu kini seakan mulai pudar seiring terlontarnya suatu usulan yang mampu meredupkan mimpi. Tutup, menjadi sebuah kata yang terusulkan. Ya, usul yang akan mengawali dilema panjang bagi para mahasiswa yang berjuang dengan jurusan mereka yang masih terakreditasi C di Unsyiah. Mengapa tidak? Meski hanya masih sebuah usulan, atau mungkin beberapa pihak mengklarifikasikannya sebagai penyemangat untuk prodi berakreditas C, hal ini bukanlah cara yang tepat untuk dirasakan oleh seorang mahasiswa yang kini berusaha keras mengangkat prodi yang diperjuangkannya. Bahkan untuk calon mahasiswa selanjutnya yang ingin mengambil jurusan tersebut demi cita-citanya kelak.

Padahal, masih ingat dalam benak mahasiswa akan kata-kata pimpinan universitasnya yang menyatakan bahwa keberhasilan besar Unsyiah mendapatkan akreditasi A bukanlah kerja Unsyiah saja, tapi juga seluruh mahasiswa Unsyiah. Tentu termasuk mahasiswa yang tersemat akreditas C di dalamnya. Dan tentu mereka juga memberikan kontribusi besar bagi Unsyiah. Tidakkah kita mengingat saat Unsyiah masih berakreditas C? Semua mahasiswa termasuk yang berakreditas C di dalamnya saling bahu membahu berjuang menjadikan Unsyiah menjadi lebih baik. Keyakinan akan kesempatan tersematnya A pada nama besar Unsyiah pun tak luntur dari sanubari mereka untuk meraihnya.

Dan ketika Unsyiah pun mendapatkan akreditas membanggakannya, apakah kini harus memudarkan semangat prodi-prodi C yang kini masih berjuang meraih akreditas seperti Unsyiah dahulu? Lantas, apakah jurusan dan mahasiswanya ini tidak diberikan kesempatan yang sama? Berharap untuk dapat berubah dari C menjadi A dan terus berusaha yang terbaik dalam perjuangannya? Lalu, apalah artinya IP (Indeks Prestasi) tinggi seorang mahasiswa bahkan hingga 4,0 sekali pun apabila kualitas jati dirinya hanya dilihat dari sekedar akreditas C yang ditempuhnya? Padahal kita tahu bahwa semua mahasiswa dibimbing agar mampu mendapatkan IP yang tinggi. Sungguh menjadi sebuah ironi bagi mahasiswa, padahal mereka masih bermimpi dan terus berjuang mengemban kebangkitan pendidikannya. Karena mereka tau semua butuh proses untuk menjadi lebih baik seperti halnya akreditas Unsyiah dahulu.

Sungguh, usulan penutupan jurusan-jurusan berakreditas C di Unsyiah ini harus dicermati dengan baik. Mengapa tidak? Kita mengetahui bahwa penilaian akreditasi menyangkut banyak hal seperti kurikulum, jumlah tenaga pendidik, keadaan mahasiswa, koordinasi pelaksanaan pendidikan yakni kesiapan sarana dan prasarana, administrasi akademik, kepegawaian, keuangan dan rumah tangga dari program studi tersebut. Lantas, apakah semua fasilitas itu telah sepenuhnya diberikan kepada setiap prodi? Terlebih mayoritas jurusan yang terkena usulan penutupan itu ialah jurusan-jurusan muda yang tentu saat akreditasinya masih minim fasilitas, tenaga pendidikan serta faktor lainnya, sehingga mendapat akreditas C. Tentu, hal ini harus menjadi pertimbangan yang sangat penting mengingat semua hal tentang kualitas akreditas bukan didasarkan pada mahasiswa semata.

Oleh karena itu, diibaratkan sebagai sebuah rumah. Unsyiahlah yang menjadi tampilan luarnya sedangkan prodi-prodi di dalamnya menjadi isinya. Kini Unsyiah sebagai tampilan luar telah menjadi lebih baik, dan sekarang waktunya bagi prodi-prodi sebagai isinya juga harus berbenah. Berbenah, bukanlah dengan cara menyimpannya dan menutupnya dalam kotak, tetapi merawatnya serta menjaganya dalam perjalanannya sebagai pelengkap sang rumah menjadi lebih indah. Karena dengan dukungan dan motivasi yang nyata, biarkanlah mahasiswa bersama civitas akademika Unsyiah sebagai penghuninya melanjutkan mimpi tanpa menutup harapan menggapainya, demi Unsyiah yang lebih baik. Karena bersama kita yakin bisa, karena kebersamaan adalah kekuatan.


(Fariz A.A)

Posting Komentar

 
Top