0
Ilustrasi

Banda Aceh, Industrialtimes.net- Fajar baru menyingsing, memancarkan sinar keemasannya yang menyilaukan nan indah untuk di pandang. Seakan menjadi penggerak semangat langkah demi mengais rezeki di bumi Gaza. Senyum-senyum polos pun tersungging pada wajah-wajah penduduknya. Ya, tersenyum menjadi cara mereka untuk tetap bersyukur kepada Allah atas cobaan yang menimpa.

Tentu, masih melekat dalam benak kita kurang lebih setahun yang lalu negeri ini porak poranda. Ketika Zionis melakukan agresi di bumi gaza yang meninggalkan cerita dan derita. Ya, sebuah cerita tentang kepahlawanan penduduknya yang rela syahid demi Al-aqsa tercinta. Dan juga sebuah derita tentang kita dan dunia yang menutup mata ketika penduduk dan anak-anak gaza menjadi korbannya. Lantas, apakah kini yang mereka miliki? Rumahkah? Mobilkah? Hartakah? Keluargakah? Tidak saudaraku. Mereka tak punya lagi semua itu, mereka hanya punya Allah saudaraku. Mereka hanya punya Allah.

Dan kini kata sedih menjadi sebuah kata yang tak mampu menggambarkan kekejaman yang berpuluh tahun mereka rasakan. Dalam kepungan Zionis mereka rela merana. Dalam blokade-blokade yahudi israel yang tak mampu ditembus seluruh negara-negara islam di dunia mereka juga rela tersiksa. Kemana para pemimpin islam? Dimana letak penderitaan mereka dalam hati kita?. Duhai saudaraku, tak terhitung dan tiada terkira beban yang sejak dulu dan kini mereka emban demi sekedar menjaga pondasi Al-aqsa tetap kokoh berdiri di bumi palestina.
Wahai muslimin dan muslimat, tak sadarkah kita telah melupakan mereka. Sudikah kita berusaha mencari berita yang terjadi setiap harinya disana. Tanyakanlah pada anak-anak gaza yang kehilangan, ingatkah mereka akan wajah orang tua mereka. Dengarkanlah Rintihan air mata ibu-ibu yang kehilangan suami dan anak-anaknya. Perhatikanlah tertatihnya saudara dan saudari kita memegang tongkat dan menaiki kursi roda hanya sekedar untuk beraktivitas. Cobalah rasakan sakitnya ketika peluru-peluru menembus tubuh yang terkoyak. Tinggalah dalam gubuk beralaskan kardus tatkala dinginnya musim dingin menusuk badan. Tak akan mungkin sanggup kita uraikan penderitaan mereka. Apakah tak tergores perih dalam lubuk hati kita? Sungguh, sungguh saudaraku tak kuat lidah ini mengatakannya dan tak sanggup lisan ini menyampaikannya.

Lantas, adakah rasa peduli yang mengalir dalam setiap tarikan nafas kita? Tatkala kita melihat foto seorang ayah menangis di samping jenazah putra putrinya yang masih balita. Ya Allah, kemanakah rasa peduli dalam setiap relung hati kami? Rasa peduli saat saudaranya tersakiti hingga harus meninggalkan dunia ini saat kami hanya berdiam diri. Lupakah kita pada hadits nabi, jikalau muslim di ibaratkan satu tubuh. Apabila satu sakit semuanya merasakan, dan apabila ada yang kesusahan yang lainnya membantu meringankan. Lalu, apakah ini tak berlaku untuk saudara kita rakyat gaza? Apakah rasa peduli itu hadir layaknya seperti musiman saja yakni saat musim peperangan telah tiba?. Dan musim kepedulian untuk palestina itu pun akhirnya berlalu dan pergi meninggalkan gundukan tanah  syahidnya saudara kita. 

Tak ingatkah kita pada jasa mulia mereka duhai saudaraku? Di saat kita berpaling saat Al-aqsa dinodai yahudi Israel, mereka malah menatap ke depan siap membela pusaka ummat islam dari tentara zionis. Tak peduli bidikan senjata, bom-bom, rudal canggih sekalipun yang menerjang. Yang mereka tahu hanyalah Al-aqsa harus tetap tegak berdiri demi kita saudaraku. Demi ummat islam dunia mereka rela bertaruh nyawa, karena mereka tahu tanah palestina dan masjidil Aqsa hanyalah warisan ummat yang harus mereka jaga kesuciannya. Lantas, apa yang kita berikan kepada mereka?
Sungguh hanya kepeduliaan yang semu kita tunjukkan kepada mereka. Dalam balutan kelupaan kita mulai menutup mata dan hati untuk gaza dan palestina. Perlahan, bahkan juga untuk Al-Aqsa di dalamnya. Lalu, dengan sikap kita ini, apakah gaza dan palestina akan berhenti? Apakah tekad api pembebasan dalam dada-dada mujahid akan padam? Tidak saudaraku, dalam kelupaan kita atas mereka tersimpan sebuah kerinduan untuk terus berjuang. Ya, kerinduan mereka bertemu dengan kita disaat bumi palestina yang diberkahi telah di bebaskan dalam cengkraman zionis Israel.Yang mereka inginkan hanyalah satu, tertunainya indahnya ibadah sholat di dalam masjidil Aqsa bersama kita sang saudara yang perlahan mulai melupakan mereka.


Lantas apa yang mampu kita perbuat kini? Apakah hanya terus berpaling dan menutup mata hati demi saudara kita dan Al-aqsa? Tiada kata terlambat bagi kita untuk memperbaiki segalanya. Ibaratkan satu tubuh, saat mereka sakit kita juga wajib merasakan sakit. Saat mereka kesusahan kita berhak meringankannya. Insya Allah jika kita mampu menjalani pesan Rasulullah untuk kita ummatnya. Tak dapat kita pungkiri , Kita, Gaza Palestina dan seluruh ummat islam dapat bersatu serta tak melupakan satu sama lain. Yang juga saling mengeratkan, bermula dari satu anggota menjadi susunan anggota. Dan dari susunan anggota menjadi satu tubuh yang kuat. Tubuh yang mampu bergerak, merasakan sakit dan menikmati bahagia bersama. Meraih cita-cita membebaskan tanah gaza, bumi palestina dan Masjidil aqsa tercinta. Karena bersama kita bisa, karena kebersamaan adalah kekuatan, ( Fariz Aulia Alzi)

Posting Komentar

 
Top