0
(Foto:liputan6.com)

Banda Aceh, Industrial Times.net - Aceh, mungkin tak ada yang tak mengenal negeri Serambi Mekkah ini. Ya, suatu negeri yang terkenal karena menjadi saksi bisu dahsyatnya gelombang tsunami yang sontak membuat dunia tertegun. Mengapa tidak? Ratusan ribu jiwa melayang menyisakan duka dan pedih yang tak mampu terurai dengan kata.

Tepat pada 26 Desember 2004, bumi Aceh bergoncang hebat oleh gempa yang disusul terjangan tsunami yang meluluh lantakkan pelosok negeri. Sekejap, seluruh bangsa ini tertegun dalam dahsyatnya bencana yang menerpa. Untuk kesekian kalinya, rakyat Aceh pun harus kembali menangis kehilangan anak cucunya.

Seiring waktu, kenangan akan sanak keluarga yang hilang di saat sang surya masih menanjak naik di langit Aceh pun terputar kembali. Pedih memang terasa dalam dada rakyat Aceh, namun akan lebih sakit apabila  hanya berdiam dalam kepingan masa lalu yang tak akan mengubah masa depan. Lantas apa yang harus diteguhkan oleh putra putri Aceh ? Apakah terkekang dalam kenangan ataukah menghidupkan sinar masa depan?

Bangkit, itulah kata yang tepat menjawab tiap momentum peringatan tsunami yang dikumandangkan. Ya, Merefleksikan diri dalam sebuah arti kebencananaan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Pesan inilah yang harusnya diambil, dan menjadi makna yang teramanatkan untuk dijalankan.

Mungkin sulit dan berat menjalaninya, karena untuk menuju puncak mungkin tak seelok kenyataannya. Begitu pula langkah penitian rakyat Aceh untuk berada di puncak kebangkitan. Terjal memang, namun tantangan demi tantangan ini harus siap dihadang demi menopang Aceh menuju singgasana kebangkitannya kelak.

Dalam dentangan detik yang terus berjalan, Aceh pun terus berbenah dari sejarah yang memilukan. Perlahan tapi pasti,  rakyat Aceh mulai mengubah wajah keredupan dalam dinamika perjuangan kehidupannya. Lantas, akankah semuanya mampu berubah? Mungkin hanya waktu yang mampu menjawab, dalam tekad negeri Serambi Mekkah yang takkan menyerah.


Dan kini, sebelas tahun telah berlalu. Aceh yang sekarang harus berbeda dengan Aceh yang dulu. Terus mengukir lembaran sejarah baru yang akan disuguhkan untuk anak cucunya kelak. Agar tak kenal lelah meniti, tak putus asa menanti. Karena Aceh tidak boleh terus terpuruk, putra putri Aceh harus berani bermimpi. Hingga tersenyum menatap masa depannya, demi penantian hangatnya mimpi kebangkitan yang terbit. Bagai fajar baru yang menyingsing di bumi Aceh untuk masa depan yang lebih baik. (FAA)

Posting Komentar

 
Top