Kericuhan Warnai Perhitungan Suara di Fakultas Teknik | Industrial Times

0
Muhammad Afdhal Selaku Tim Pemantau Memberikan keterangannya terkait Kericuhan, (Foto: Rizki Fernanda/IT).


Banda Aceh, IndustrialTimes.net - Kericuhan terjadi di Fakultas Teknik, Selasa (22/12) sekitar jam 18:00 dalam perhitungan suara pada perhelatan Pemilu Raya (Pemira).

Peristiwa ini terjadi akibat datangnya dua wanita yang mengaku sebagai utusan KPR. Mereka mempertanyakan tentang metode perhitungan suara yang dilakukan di Fakultas Teknik. Mereka menganggap bahwa metode yang dilakukan di perhitungan tersebut tidak sesuai seperti yang telah ditetapkan di pemilu raya pada umumnya.

"Seharusnya ketika menghitung suara, setiap suara yang telah dihitung dirobek sedikit untuk menandakan bahwa suara tersebut telah dihitung," Tutur salah satu utusan KPR ini yang tidak ingin disebutkan namanya.

Karena Fakultas Teknik adalah salah satu fakultas yang besar di Unsyiah, perhitungan pun tidak dilakukan sebentar. Tentu ada jeda shalat  dalam perhitungannya. Tidak tertutup kemungkinan, ketika jeda tersebut ada yang memasukan kembali kertas suara. Namun jika telah disobek, tentu kita dapat membedakannya." Tambahnya lagi.

Melihat pernyataan yang dilontarkan dua utusan ini, mahasiswa Teknik pun menunjukan rasa kekecewaan dengan melontarkan beberapa kalimat kekesalannya, "Kenapa Fakultas Teknik  yang harus selalu dicurigai dan di perlakukan seperti itu." tutur seorang mahasiswa Teknik.

Selain itu mahasiswa Teknik juga merasa sangat kecewa dan marah pada utusan KPR. Pasalnya perhitungan suara untuk BEM telah selesai dilakukan dan sedang melakukan perhitungan suara untuk DPMU. Pada dasarnya, ada perwakilan dari KPR yang menyaksikan perhitungan suara yang dilakukan di Fakultas Teknik. Perwakilan tersebut setuju dengan perhitungan suara tanpa penyobekan. Sehingga kedatangan utusan KPR yang tiba-tiba dan mengatakan bahwa metode perhitungan tersebut salah menimbulkan pertanyaan.

Jon Kardi selaku Ketua BEM Fakultas Teknik mengatakan bahwa pada saat rapat tentang pemira, tidak ada ketentuan  melakukan penyobekan suara ketika telah dihitung, jadi tidak ada yang harus dipermasalahkan.

Namun  melihat pernyataan Jon Kardi, utusan ini pun meluruskan pendapatnya. "Di mana-mana perhitungan suara memang dilakukan seperti itu. Makanya hal tersebut tidak dijelaskan lagi dalam rapat KPR, karena dianggap telah mengerti." tutur utusan KPR saat diwawancara Tim Industrial Times.

Bukan hanya itu, kekesalan mahasiswa Teknik terlihat semakin menjadi-jadi karena kedatangan utusan KPR tersebut dianggap tidak baik-baik. Pasalnya  mereka datang tiba-tiba dan menanyakan langsung di area perhitungan berlangsung, tanpa memanggil salah satu panitia untuk dipertanyakan di luar tempat perhitungan suara dilakukan.

"Mereka datang ke area perhitungan suara dan membuat perhitungan suara pun berhenti sejenak. Mereka seperti tidak menghormati PD III. Mengapa mereka tidak memanggil PD III dahulu atau salah satu panitia Pemira ini dan menanyakan baik-baik? Mengapa harus dengan cara itu mereka menanyakan hal tersebut?" Tutur Muhammad Afdal selaku tim pemantau saat diwawancarai Tim industrial Times usai kericuhan terjadi.

Kericuhan baru dapat dipadamkan ketika PD III angkat bicara dan mengatakan bahwa perwakilan KPR yang ditugaskan di teknik setuju dengan metode yang dilakukan mahasiswa Fakultas Teknik, "Lebih baik mereka berdua keluar dari teknik agar tidak menambah emosi para panitia yang telah lelah bekerja selama dua hari ini," tutur Nasrullah.

Dua utusan tersebut akhirnya keluar dari area perhitungan dan perhitungan pun dilakukan kembali meski dengan suasana yang sudah bercampur kekesalan tersebut. [SSD]

Posting Komentar

 
Top