Tanggapi Skorsing, Alumni Bersuara | Industrial Times

3
 Alumni Unsyiah di Pertambangan Batu Bara, Borneo. (Foto: Agus Rizal)


Borneo, IndustrialTimes.net - Kebijakan skorsing dari pihak Rektorat ramai di sejumlah media sosial hingga dimuat di media cetak Serambi. Kali ini kecaman juga disampaikan oleh ratusan alumni Unsyiah yang tergabung dalam Borneo Community of Alumni Unsyiah (BCA Unsyiah) di Tanah Borneo, Kalimantan.



“Ya. kami mengecam sikap pihak penguasa kampus Jantong Hate Rakyat Aceh yang sampai mengeluarkan hukuman skorsing kepada sejumlah mahasiswa saat penyelenggaraan kegiatan silaturrahmi kepada mahasiswa baru. Seharusnya solusi seperti ini tidak perlu terjadi di Aceh.” Ujar Agus Rijal selaku alumni Fakultas Teknik angkatan 2007.



Alumni berpendapat bahwa kegiatan mahasiswa memang harus diback-up dan dikontrol supaya tidak terjadi hal-hal yang melenceng dari sifat silaturrahmi itu sendiri. Namun upaya pengontrol ini dianggap sudah keterlaluan oleh alumni. Hal ini dikarenakan hukuman skors seharusnya diterapkan pada mahasiswa-mahasiswa pemakai narkoba, pelanggar syariat maupun pembunuhan, bukan mahasiswa yang menyelenggarakan silaturrahmi. Alumni juga menyarankan semua pihak yang menjabat di Unsyiah bisa melakukan musyawarah dengan mahasiswa terkait solusi apa yang ingin ditempuh.



“Seharusnya pihak penguasa kampus bisa melibatkan semua pihak termasuk Alumni apabila Rektor, Pembantu Rektor dan Dekan di seluruh Fakultas Unsyiah terkekang dengan peraturan Dikti yang mengatur Larangan Kegiatan Mahasiswa dan akan menghilangkan jabatannya jika melakukan pelanggaran. Maka hal ini bisa dibicarakan bersama. Universitas Syiah Kuala itu bukan milik Rektor, Pembantu Rektor, Dekan, dan para Dosen. Tapi kampus itu milik kita semua, Rakyat Aceh.Perlu kerja sama semua pihak agar peraturan Dikti tidak cacat dan kegiatan silaturrahmi pun bisa diselenggarakan.” Tambah Agus Rizal.



Selain itu, alumni juga menyayangkan keputusan yang menghanguskan SPP satu semester itu dari sudut pandang orang tua mahasiswa yang diskors dan juga fungsi dari kampus itu sendiri. Orang tua pasti akan sangat sedih mendapat kabar anaknya dihukum dengan alasan seperti ini. Kampus sendiri dinilai sebagai tempat mendidik, belajar etika, disiplin dan bermasyarakat. Kampus dinilai menghasilkan manusia yang akan memanusiakan manusia lain, bukan mencetak robot yang bisa diarahkan ke mana saja. Alumni yang bekerja di Pertambangan Batu Bara Borneo ini juga berharap hukuman skors dapat diringankan dan keputusan yang diambil akan lebih baik dan bijaksana.



“Nantilah mahasiswa-mahasiswa yang akan lulus bisa merasakan sendiri di dunia kerja bagaimana fungsinya didikan robot atau manusia. Karenanya kita berharap khususnya kepada Rektor dan Dekanan di seluruh Fakultas Unsyiah, cobalah untuk mencari solusi-solusi yang lebih arif. Jangan terkesan emosional ketika menerapkan suatu keputusan. Sikap tegas itu jangan salah diartikan. Kami berharap Rektor membatalkan skorsing itu dan mahasiswa yang sudah diskors bisa kembali kuliah seperti biasa.” Tutup Agus Rizal. [Rilis : Agus Rizal, Alumni Teknik 2007]


Posting Komentar

  1. Saya juga alumni unsyiah. Saya mendukung keputusan rektor unsyiah menskors mahasiswa yang suka melanggar aturan. Rektor harus tegas memberikan sanksi kepada mahasiswa yg melanggar aturan. Mahasiswa kok suka melanggar aturan, malu dong....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alumni kok beraninya komen dengan anonim, pffft LOL

      Hapus
    2. Sama-sama anonim... jangan berisik... :D :D LOL :V

      Hapus

 
Top