0
Gathering Women, Jum'at (10/4)
Darussalam, Industrialtimes.net – “Perempuan memiliki urgensi dalam turut andil menyikapi problematika negara, karena sesungguhnya peran perempuan tak hanya di sumur, kasur, dan dapur”, begitulah simpulan dari materi yang disampaikan Devi Mulia Sari dalam acara Gathering Woman, Jum’at (10/04).

Acara Gathering Woman merupakan acara yang digagas oleh kementrian pemberdayaan perempuan BEM Unsyiah. Tajuk yang diangkat dalam acara yang rutin diadakan dua minggu sekali ini, disesuaikan dengan isu keadaan negara dan peran wanita yang sedang berkembang di khalayak. Gathering Woman kali ini yang bertajuk ‘Urgensi Perempuan Dalam Menyikapi Problematika Negara’ merupakan agenda yang ketiga kalinya.

“Acara gathering woman ini diadakan dua minggu sekali setiap Jum’at siang di kantor BEM dan acara ini membahas tentang isu yang sedang berkembang yang berkenaan dengan perempuan dan kondisi negara,” tutur Amwal Muhnisa selaku ketua kementrian pemberdayaan perempuan. “Ini merupakan acara yang ketiga kalinya.

Acara perdana program ini dilaksanakan pada awal Maret mengenai woman’s international day. Kegiatan perdana tersebut tidak hanya diisi dengan acara gathering woman di kantor BEM tapi juga diadakan on air di radio dan melalui aksi di lapangan blang padang. Untuk acara selanjutnya direncanakan akan membahas mengenai hari kartini,” paparnya ketika ditemui usai acara gathering woman 10 April 2015.

Berikut ulasan dari paparan Devi selaku pemateri, “Banyak sekali permasalahan negara yang bersumber pada kemerosotan ekonomi dan kebodohan. Yang disayangkan adalah banyak diantara pelaku maupun korban dari permasalahan negara ini merupakan perempuan, bahkan seorang muslimah. Kita sebagai perempuan harus sadar bahwa peran kita tak sebatas di sumur, kasur, dan dapur maka sebagai perempuan kita harus banyak menuntut ilmu baik dalam mengatur uang, kesehatan dan gizi, mendidik anak, maupun dalam bidang keilmuan yang kita geluti. Perempuan juga harus diberdayakan dan berkontribusi dalam masyarakat baik melalui gagasan maupun karya nyata. Tak hanya itu, perempuan harus pandai menjaga diri dan menahan nafsunya, seperti terhadap gairah fashionable yang sedang digembar-gembor”.


Ia juga menambahkan bahwa persamaan hak itu tidak bisa melalui kesetaraan gender karena fitrahnya laki-laki dan perempuan itu berbeda sehingga lakukanlah kontribusi sesuai porsinya masing-masing. [AJCH]

Posting Komentar

 
Top