0
Piala Piston Cup
Banda Aceh, IndustrialTimes.net - Jika saat ini seluruh dunia baru saja mengalami demam piala dunia 2014, maka mahasiswa Teknik  sudah terlebih dahulu merasakannya. Perhelatan Piston Cup menjadi ajang sepak bola yang dinanti karena menghadirkan “keganasan” dari para pemain dan baru saja berakhir pada Minggu (15/6) lalu.

Tahun 1984 menjadi tahun pertama Piston Cup digelar. Hal tersebut untuk menjalin silaturrahmi antar angkatan mahasiswa Teknik Mesin Unsyiah. Mahasiswa Teknik Mesin Unsyiah angkatan 1984 diantaranya komting Kak Ani, Kumari, Khairil, Hamdani, Ilyas, dan kawan-kawan menjadi penggagas awal terlaksananya Piston Cup. Saat itu, ditengah padatnya jadwal kuliah, para mahasiswa Teknik Mesin Unsyiah angkatan 1984 mendapat ide untuk mengadakan pertandingan bola antar angkatan yang saat itu diikuti mahasiswa dari angkatan 1980 hingga 1985.

Mengapa pertandingan bola? Karena sepak bola dianggap sebagai olahraga pemersatu sekaligus hobi yang paling banyak digemari Teknik Mesin Unsyiah. Ditambah lagi olahraga tersebut digemari kaum adam pada umumnya.

Siapa terkuat dialah pemenangnya. Tentunya tim terkuat dalam hal menyusun strategi dan kuat mental dalam bertanding. Tak jarang, tim yang menjadi juara adalah tim terhebat pada era 80-an di Universitas Syiah Kuala.

Saat itu tim sepak bola dari Fakultas Teknik adalah yang terbaik.Karena Unsyiah mempercayai juara pertama Piston Cup untuk menjadi Tim Unsyiah di ajang antar Universitas. Bahkan ada pemain yang direkrut oleh PSSI dari tim kita.” Ujar ProfDr. Ir. Khairil, MT, dosen Teknik Mesin yang juga pemain Piston Cup berposisi sebagai penjaga gawang.

Hal yang masih menjadi tanda tanya ialah bentuk piala yang setiap tahunnya berbahan baku dari piston. Mengapa harus piston? Bukan roda gigi atau yang lainnya yang lebih identik dengan Teknik Mesin?.

Menurut Prof. Khairil, alasannya cukup simple. Piston adalah sumber tenaga yang menjalankan suatu mesin. Lebih singkatnya, piston adalah inti sebuah mesin. Piala pertama Piston Cup adalah piston Toyota Hardtop yang saat itu dicari dengan berkeliling dari satu bengkel ke bengkel yang lain untuk kemudian dicat kuning emas agar lebih menarik. Tak mudah mencari piston mobil saat itu, tak semua bengkel memberikannya.

Prof. Khairil menambahkan seiring dengan berjalannya waktu, Piston Cup kini dianggap tidak efektif. Pada awalnya untuk mempererat silaturahmi dosen dan mahasiswa malah berimbas ke jadwal perkuliahan karena aktivitas kepanitian.

Piston saat ini saya lihat sudah tidak efektif. Terlalu lama memakan waktu. Yang paling tidak saya setujui, banyak panitia yang minta izin tidak masuk kuliah karena alasan Piston Cup. Sayang sekali.” Ujar Prof. Khairil.

Hal tersebut juga disayangkan oleh Hamdani, salah satu penggagas Piston Cup. Menurutnya Piston Cup merupakan salah satu kebanggaan dari Fakultas Teknik, tentu pelaksanaanya di set sedemikan rupa agar tidak mengganggu proses belajar mengajar.

“Kita selalu mendukung Piston Cup dan harus selalu dilaksanakan. Hanya saja butuh manajemen waktu yang baik agar perkuliahan tidak terganggu,” ungkap Hamdani.

Senyum simpul hadir dari wajah Hamdani yang berposisi sebagai gelandang bertahan saat ditanya tentang kenangan selama menjadi panitia dan pemain Piston Cup. Menurutnya ada banyak kenangan yang tentunya akan selalu diingat.

“Beberapa kenangan yang paling berkesan yaitu saat mencari piston dari bengkel ke bengkel, kemudian saat pertandingan dibelakang gelanggang di tengah hujan. Semua itu masa indah saat saya menjadi mahasiswa yang tidak dapat saya lupakan. Karena kekompakan kami saat itu masih teringat jelas hingga hari ini.” tutup Hamdani. [rdl]

Posting Komentar

 
Top