0
Enam dari delapan calon pilot Aceh berpose di belakang pesawat latih di Sekolah Penerbangan Integrity Training Sercive (ITS) Ipoh, Malaysia. Foto direkam, Selasa 20 April 2010. FOTO ARIF RAMDAN/DOK.SERAMBI INDONESIA
Banda Aceh, IndustrialTimes.net - Pemerintah Aceh saat ini telah memiliki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan Aceh. Sekolah ini berada di bawah naungan Lembaga Dirgantara Aceh yang dipimpin oleh Marsda (Purn) Teuku Syahril. Selain itu, ada pula Aceh Pilot School, juga di bawah pimpinan Teuku Syahril.

Namun demikian, sejak didirikan, sekolah ini belum menerima siswa. Rencananya, rekrutmen calon pilot dimulai pada tahun ini. 

Di sisi lain, Lembaga Dirgantara Aceh sebelum lahirnya sekolah ini, telah mengirim sejumlah calon pilot untuk belajar ke Malaysia. Program itu kemudian tersendat. Lalu, kerjasama dilanjutkan dengan Jakarta Pilot School. Kerjasama ini untuk mendidik 15 siswa sampai selesai tingkat Private Pilot License (PPL).

Lulus dari pendidikan PPL, bukan berarti mereka bisa langsung jadi pilot. Untuk bisa menerbangkan pesawat terbang komersil, mereka harus mendapat sertifikat lisensi CPL/IR atau Commercial Pilot License/Instrument Rating. Jika sudah mengantongi serfikat ini, barulah  mereka dapat melamar ke perusahaan penerbangan.

Agar ke-14 siswa ini dapat mengantongi sertifikat CPL/IR, Lembaga Dirgantara Aceh, sesuai surat yang diajukan ke Gubernur Aceh pada Januari 2014, membutuhkan uang sebesar Rp5,32 miliar. Rinciannya, masing-masing siswa butuh USD 40 ribu. Dengan asumsi kurs rupiah Rp9.500, maka didapatlah angka Rp5,32 miliar itu. 

Selain untuk biaya pendidikan 14 siswa itu, dalam surat yang ditantadangani Teuku Syahril, Lembaga Dirgantara Aceh menyebutkan terjerat utang sebesar Rp762 juta lebih. Utang itu untuk membayar bagi key person Rp325 juta, sewa kantor Rp192,6 juta, dan biaya grand school sebesar Rp245 juta. 

Sambil menunggu penerimaan siswa baru,dari Januari hingga Juni 2014, Lembaga Dirgantara Aceh juga butuh duit Rp1,825 miliar. Uang itu rencananya dipakai untuk menggaji key person 6 bulan sejumlah Rp663 juta, perbaikan perlengkapan Avionic Rp 325,35 juta, pemeliharaan pesawat dan simulator, Rp129,1 juta, sertifikasi Rp414 juta, dan biaya operasional senilai Rp294 juta

Jika itu untuk menunggu siswa baru, maka saat merekrut siswa pilot, Lembaga Dirgantara Aceh, perlu uang lagi sebesar Rp1,56 miliar. Rinciannya, rekrut calon siswa baru butuh duit Rp137,5 juta, pemeriksaan kesehatan dua tahap di Banda Aceh sebesar Rp385 juta, biaya transportasi Rp240 juta, biaya penginapan dan makan siswa di Jakarta Rp420 juta, uang saku peserta tes calon siswa Rp120 juta, pendamping Rp84 juta, tes tahap tiga di Jakarta Rp84 juta, serta tes akademik dan psikotes sejumlah Rp89,8 juta. 

Itu baru tahap rekrutmen. Untuk biaya pelatihan, lain lagi. Berapa yang dibutuhkan? 

Untuk melatih 20 calon pilot yang direkrut tahun 2014, perlu duit Rp26,15 miliar. Uang ini rencananya dipakai untuk tahap pendidikan Private Pilot License (PPL) Rp5,63 miliar, tahap pendidikan CLPL/IR di Banda Aceh Rp11,25 miliar, dan pengadaan peralatan berupa pembelian 2 unit pesawat Cessna C-172 SP tahun 2008 sejumlah Rp9,27 miliar. 

Ini belum termasuk pengajuan pembelian 1 pesawat TECNAM P.2006 T buatan Italia sebesar Rp12,7 miliar. 

Sekedar mengingatkan, sebelum sekolah ini dibuka, sejak 2009, Pemerintah Aceh telah mengirim sejumlah calon pilot bersekolah ke Malaysia. Mereka belajar di Sekolah Penerbangan Integrated Training dan Services Ipoh, Malaysia. Namun, sebelum jadi pilot, mereka harus pulang kampung. Seharusnya, masa belajar mereka adalah 18 bulan, terhitung sejak Agustus 2009 - April 2011. 

Namun, sejak Januari 2011 latihannya mulai macet, hingga terhenti total. Dari seharusnya menyelesaikan 150 jam terbang, para calon pilot itu hanya menyelesaikan 37 jam saja. Belakangan, tersiar kabar mereka akan dialihkan ke sekolah penerbangan lain. Kabar yang beredar, mereka baru lulus tahap pertama dan mendapat sertifikat pilot pribadi. Ini berarti mereka belum bisa menjadi pilot, sebab untuk menjadi pilot komersial harus mendapat lisensi CPL/IR atau Commercial Pilot License/Instrument Rating.

Pada 2010, kembali dilakukan rekrutmen tahap kedua, namun, terbetik kabar pendidikan mereka juga masih terbengkalai.[atjehpost.com]

Posting Komentar

 
Top