Dilema SBAK | Industrial Times

0
Antrian Mahasiswa pada loket SBAK
Darussalam, IndutrialTimes.net – Final baru saja berakhir. Belum habis semua nilai keluar, kampus Teknik dan Unsyiah sudah kembali ramai. Mahasiswa-mahasiswa bersiap menanti semester baru. Selasar SBAK Fakultas Teknik pun dipenuhi mahasiswa yang menunggu resah, tidak dapat mengambil map KRS miliknya atau teman-temannya pada Sabtu (19/1/2014).

Pengisian KRS sebagai syarat untuk mengikuti perkuliahan selalu menuai polemik tiap semesternya. Segala upaya perbaikan sistem secara online sudah dilakukan, namun masih banyak yang mempertanyakan hasilnya.

Terlepas dari perbaikan sistem online, Fakultas Teknik Unsyiah memiliki permasalahan tersendiri. Setiap mahasiswa diharuskan mengisi KRS manual sebagai pelengkap KRS online. Namun, permasalahan KRS manual ini pun seakan tidak ada habisnya. Pengumuman yang simpang siur meresahkan mahasiswa yang kebanyakan sedang pulang kampung untuk beristirahat sejenak sebelum memulai semester yang baru. Berbagai protes pun dilayangkan kepada pihak SBAK yang dirasa paling bertanggung jawab dalam membuat kebingungan ini.

Ichwal Alfarisyah, mahasiswa jurusan Teknik Elektro angkatan 2010 mengatakan, “Jadwal pengambilan KRS yang berubah-ubah membuat teman-teman bingung dan panik. Permasalahan dimulai dari banyaknya pemutihan nilai matakuliah sampai pengambilan map KRS. Pihak SBAK beralasan telah mengikuti prosedur dekanan hingga rektorat. Namun hal ini sangat disayangkan. Mungkin untuk teman-teman yang mengikuti KKN dan memiliki surat kuasa dapat diurus ketua himpunan. Tetapi bagaimana teman kita yang sedang berada di kampung? Belum lagi teman-teman di Banda Aceh yang mau membantu tapi tidak tahu harus bagaimana.”

Nada kekecewaan juga dilontarkan oleh Dini Amalia mahasiswa Teknik Industri angkatan 2011 yang menurutnya keringanan yang diberikan tidaklah jelas.

“Sungguh mengecewakan. Untuk apa membuka jadwal pembayaran SPP hingga tanggal 27 Januari nanti jika pengambilan map hanya bisa sampai tanggal 20? Bagaimana dengan teman-teman yang mungkin baru ada rezeki setelah tanggal itu? Padahal syarat pengambilan KRS manual harus memperlihatkan slip SPP. Walaupun ada keringanan, namun keringanannya tidak jelas. Sekali mengatakan boleh tidak pakai slip, selanjutnya boleh hanya menunjukkan KTM, terakhir saya dengar harus pakai surat kuasa. Jadi yang mana yang benar? Teman kita yang di kampung harus bagaimana? Kita yang mau membantu harus bagaimana?” ujar Dini.

Banyaknya protes yang muncul hendaknya menjadi masukan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penanganan KRS ini. Terkadang mahasiswa bukannya mau “membandel” dengan tidak mengisi KRS atau mengisi di detik-detik terakhir sehingga menyebabkan beberapa masalah, tetapi kondisi yang simpang siur dan tidak jelaslah yang membuat mahasiswa malas berurusan dengan KRS dan prosedurnya. Semoga drama pengisian KRS ini dapat segera berakhir sehingga mahasiswa kedepannya bisa menikmati liburan sambil mengisi KRS tanpa perlu resah terkait prosedurnya. rdl

Posting Komentar

 
Top