Pengorbanan dan Idul Adha | Industrial Times

0
Oleh: Zulfan Helmi

Setiap datang hari raya Idul Adha, umat Islam teringat peristiwa dramatis Nabi Ibrahim a.s. berkurban menyembelih anaknya, Ismail. Peristiwa itu menjadi momentum bagaimana tingginya moral seorang hamba Allah yang menepati janji meski harus menyembelih anak sendiri. Begitu juga Ismail yang tanpa protes sedikit pun bersedia disembelih karena menjalankan janji sang ayah akan mengurbankan dirinya apabila mendapat seorang anak. Ismail sendiri dalam peristiwa itu terhindar karena diganti dengan seekor domba oleh Allah SWT.
Dalam agama, komitmen adalah janji atau ikrar yang wajib dipenuhi. Seorang yang sudah menyatakan beriman wajib menjalankan keimanannya itu. Nah, berkaitan dengan kehidupan dan penyelenggaraan negara, pemimpin dan rakyat berkomitmen sesuai asas dan dasar kehidupan bernegara Pancasila yang didalamnya terdapat komitmen kehidupan beragama.

Manusia yang berguna ialah manusia yang dapat mengambil pelajaran dari pengalamannya. Apabila tidak ada satupun nilai positif yang dapat diambil, hari raya Idul Adha hanyalah prosesi peregangan nyawa si domba, sapi, kambing, ataupun unta.

Banyak yang percaya ruh utama dari Idul Adha terletak pada konsep pengorbanan diri, bagaimana kita harus lebih bersedia untuk mengorbankan diri demi orang lain. Makna apa yang dapat dipetik dari Idul Qurban tahun ini berkaitan dengan banyaknya penyelewengan? Ramaikah pemimpin berkurban hewan berupa sapi maupun kambing pada Idul Adha? Apakah demikian seorang muslim, apalagi pemimpin, sudah dikatakan memenuhi keimanan kepada Allah SWT?

Pemimpin tidak hanya harus memenuhi komitmen keagamaan, tetapi juga komitmen kepemimpinan. Pemimpin di negara kita berikrar lewat pakta integritas untuk memenuhi semua tugas dan kewajiban sebagai penyelenggara negara.

Sejauh ini mengenai kepemimpinan, konsep pengorbanan diri sangatlah penting. Seorang pemimpin harus selalu memiliki kemampuan mengorbankan diri. Sejarah telah mencatat banyak pemimpin yang mengorbankan diri mengahasilkan dampak yang besar bagi dunia. Orang-orang seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Soekarno dan Hatta adalah contoh dari orang-orang yang telah mengorbankan diri untuk kepentingan orang lain dengan ideologi dan impian yang besar.

Menurut Knippenberg, pemimpin efektif dikarenakan pengorbanan diri mereka. Knippenberg menyatakan bahwa ada tiga faktor mengapa pengorbanan diri menentukan kepemimpinan efektif.

Pertama, pengorbanan diri adalah salah satu cara langsung pemimpin untuk menyatakan bahwa ia menganggap kesejahteraan sangat penting, dan itu juga secara eksplisit menunjukkan komitmen kolektifnya.

Kedua, menciptakan keyakinan rakyatnya bahwa pemimpin dapat diandalkan untuk berperilaku kerjasama dimasa depan. Dan ketiga, perilaku rela berkorban memberikan kontribusi persepsi positif untuk rakyatnya.

Meskipun para pemimpin harus memiliki kemampuan untuk mengorbankan diri, banyak telah kehilangan sifat dari pengorbanan diri dan cenderung menguntungkan diri sendiri. Tentu saja, para pemimpin seperti ini tidak pernah memiliki ideologi atau impian besar bahwa mereka berjuang untuk rakyatnya.

Kebenaran harus ditegakkan, 68 tahun Indonesia telah merdeka. Indonesia benar-benar membutuhkan pemimpin dan pengadil yang mengorbankan diri serta memiliki komitmen demi kebaikan bangsa.

Momentum Idul Adha bisa dimanfaatkan untuk membersihkan nuraninya para pemimpin kita untuk menjadi lebih bersedia menunjukkan pengorbanan diri yang mencerminkan kepemimpinan yang efektif.

Setelah Idul Adha, umat Islam akan menyongsong tahun barunya. Tahun baru hijriah hanya berselang kurang lebih tiga pekan setelah Idul Adha. Tentu akan lebih baik jika pemimpin dan kita semua membawa hikmah Idul Adha sebagai modal untuk membangun pribadi yang lebih baik di tahun 1435 H mendatang. Selamat Idul Adha.

*Zulfan Helmi, mahasiswa Teknik Industri Universitas Syiah Kuala angkatan 2011, Email : zlvnzlvn@gmail.com

Posting Komentar

 
Top