Diferensiasi Jurusan Pendidikan | Industrial Times

1
Oleh : Hudaya Thariq
*Hudaya Thariq, mahasiswa Teknik Industri Universitas Syiah Kuala angkatan 2011
Email : hudayathariq@yahoo.com

Sering kali kita mendengar pernyataan bahwa seseorang akan lebih terpandang dan ‘bergengsi’ jika ia berasal dari latar belakang pendidikan tertentu. Apakah pernyataan ini benar? Ada kebenaran dan ada juga kesalahan dalam pernyataan ini. Dalam menentukan terpandang atau tidaknya seseorang dari latar belakang pendidikannya tentu saja tidak seperti melihat buku berdasarkan harganya. Ada beberapa tinjauan yang harus dinilai.
sumber: http://oyster.ignimgs.com
Pertama, strata pendidikan. Sudah barang tentu jika seseorang berasal dari tingkatan pendidikan yang lebih tinggi akan memiliki ‘level’ yang berbeda jika dibandingkan dengan orang lain yang strata pendidikannya lebih rendah. Kedua, kemampuan. Jika seorang lulusan SMA ternyata memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan lulusan S1, sudah pasti lulusan SMA berada di derajat yang lebih tinggi.
Pertanyaannya sekarang, apakah jurusan pendidikan tertentu meningkatkan ‘level’ seseorang? Ternyata tidak. Dalam kajian ilmu sosiologi, latar belakang pendidikan dibedakan secara diferensiasi, atau pembedaan sederajat. Artinya, setiap jurusan yang dipilih memiliki level yang sama. Tidak ada perbedaan tingkatan dalam pembedaan jurusan.
Selama ini, orang tua sering kali menginginkan anaknya untuk masuk ke fakultas kedokteran yang dianggap paling bergengsi. Bahkan tidak sedikit orang tua yang rela membayar ratusan juta rupiah hanya untuk meluluskan anaknya ke fakultas tersebut. Padahal, yang paling penting dalam pemilihan jurusan pendidikan adalah minat dan bakat peserta didik. Jika memilih jurusan berdasarkan gengsi saja padahal minatnya ada di bidang lain, peserta didik akan sangat kesulitan untuk mengikuti pelajaran, belum lagi untuk ikut turun ke lapangan. Disinilah letak kesalahan masyarakat Indonesia. Kita terlalu mengagung-agungkan jurusan tertentu padahal setiap jurusan memiliki tingkat kesulitan dan tantangannya masing-masing, yang membuat tiap jurusan tidak boleh dibedakan menjadi tingkatan-tingkatan tertentu.

Pada kenyataannya, ternyata masing-masing profesi memiliki tuntutan tertentu dalam melaksanakan profesionalitasnya. Bayangkan apa yang akan terjadi jika seorang dokter tidak memiliki jasa asisten untuk membersihkan ruangannya, atau jika seorang engineer tidak memiliki asisten untuk membuatkan kopinya. Semua profesi dari semua bidang ilmu dituntu untuk melakukan pekerjaan mereka seprofesional mungkin, yang membuat tiap-tiap profesi memiliki strata yang sama untuk dapat saling bersinergi dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Jadi, apakah profesi membedakan kita?

*Hudaya Thariq, mahasiswa Teknik Industri Universitas Syiah Kuala angkatan 2011
Email : hudayathariq@yahoo.com

Posting Komentar

 
Top