Catatan Di Hari Sumpah Pemuda | Industrial Times

0
Ilustrasi Sumpah Pemuda (Foto: mradio.com)
Kemerdekaan Negara Republik Indonesia didasari oleh perjuangan panjang kalangan pemuda dan masyarakat Indonesia. Baik dalam bentuk pergerakan massa maupun pertempuran yang mengorbankan banyak jiwa dalam pertumpahan darah tersebut. Ini merupakan sejarah yang tak pernah pudar dalam memori masyarakat. Oleh karena itu, sejarah perjuangan tersebut seharusnya menjadi spirit bangsa pada saat ini untuk mempertahankan kemerdekaan yang hakiki.

Sebagai salah satu bukti pergerakan yang dibangun oleh pemuda dikenal sumpah pemuda. Ikrar tersebut merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, maka sudah patutnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Check Of Balance
Pasca kemerdekaan Indonesia pergerakan mahasiswa juga tak pernah henti memperjuangkan keadilan. Hal ini terbukti keterlibatan mereka pada berbagai peristiwa besar di Negara ini. Seperti perjungan merebut reformasi dari renzim orde baru pada tahun 1998. Dalam tahun yang sama, di Aceh pergerakan mahasiswa juga berhasil memfasilitasi masyarakat Aceh menuntut hak melalui referendum yang melibatkan semua elemen dari berbagai daerah di Aceh.

Namun reformasi dan referendum bukanlah suatu jaminan terhadap kemajuan bangsa secara keseluruhan, masih banyak persoalan lain di negeri ini yang butuh peran cheek of balance untuk terus mengawal kestabilan bangsa dan negara.

Dalam kontek kekinian Aceh, pergerakan tersebut kian pudar. Suara-suara kritis pemuda nyaris tak berdengung lagi. Ini lah persoalan yang menyebabkan permainan ‘bola politik’ semakin liar oleh penguasa-penguasa daerah. Semakin hari sikap apatis masyarakat terhadap persoalan bangsa kian tinggi. Bahkan sebahagian mahasiswa dan pemuda saat ini, notabenya berperan sebagai penyampai aspirasi rakyat pun ikut terjebak dalam sikap yang tak peduli tersebut. Hal tersebut merupakan salah satu bagian dari masalah sosial dalam bentuk anti sosial yang perlu kita atasi dimasa dini.

Konsolidasi Yang Elegan
Secara sejarah dan budaya masyarakat Aceh secara kolektif, semestinya sikap tersebut tidak terinfeksi pada masyarakat yang menjunjung tinggin nilai-nilai dan budaya islam. Dalam Al-qur’an, Allah dalam firmannya (Ali imran : 104) juga menganjurkan kita untuk berbakti kepada hal kebajikan. Bunyinya  “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.

Berdasarkan konsep islam yang menjadi panduan hidup umat muslim, khususnya di Aceh. Sikap anti sosial sangat tidak di anjurkan dalam islam. Bahkan Allah menganjurkan untuk peduli sesama umat manusia, bangsa dan Negara.

Jadi, sungguh sangat disayangkan jika masa muda dilewatkan begitu saja tanpa beraktualisasi terhadap pengabdian, perjuangan dan pengorbanan di masa seharusnya mereka berperan sebagai ‘ujung tombak’ pergerakan. Karena tiada guna penyesalan datang ketika mereka ingin mengabdi tapi tak mampu lagi karena faktor usia. Saat ini lah generasi pemuda Aceh bangkit bersatu untuk merevitalisasi semangat kepemudaan Aceh sebagai obor perjuangan nasional.

Di moment ini kiranya pemuda dan mahasiswa harus mampu bersatu untuk membangun suatu isu penting yang kiranya dapat menjaga perdamaian dan kesejahteraan masyarakat Aceh secara kolektif. Hal ini bisa ditempuh dengan cara membangun konsolidasi yang elegan antar lembaga untuk merajut solidaritas demi menjaga dan mengisi perdamaian. Semoga!!

*Mirza Fanzikri S.Sos.I, Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Aceh dan Mahasiswa Pascasarjana Prodi Perencanaan Wilayah dan Pedesaan Universitas Sumatera Utara (USU).

Posting Komentar

 
Top