A-Z Jelang Pemira Unsyiah 2013, Sudah Adakah Pilihan? | Industrial Times

0
Ilustrasi Kotak Suara Pemira Unsyiah 2013 (Foto: Istimewa)
Paradoks siapa yang berhak dipilih untuk sang “Presiden mahasiswa masih terus klise sebelum para elector kampus Unsyiah menetapkan satu pilihan. Padahal, banyaknya pilihan bukan berarti memberi peluang besar untuk bingung, justru memberi sebuah hikmah dan inspirasi untuk menetapkan sebuah pilihan. Setiap pilihan akan ada alasan. Berawal dari masa pendaftaran menjadi calon orang nomor satu di kalangan mahasiswa, masa kampanye hingga momen penyampaian visi-misi dan debat sesama kandidat menjadi bukti konkret bahwa mereka punya kepentingan untuk kampus Unsyiah, dan tentunya setiap kepentingan merupakan hal relatif. Bergantung dari sisi mana kita melihat.

Momen Golden Chance
Melihat sikon sesama kandidat, ada sedikit aura kompetisi yang terkesan saling berspekulasi antar kandidat. Gaya saling menjatuhkan namun berusaha dipackaging dengan cerdas, supaya tidak terbaca oleh para eksekutor target (pemilih). Itu lumrah terjadi dan dibenarkan, malah sangat wajar. Panggung eleksi umum yang akan berlangsung di akhir oktober nanti menjadi panah target setiap kandidat. Destinasinya sama, hanya saja cara mereka berbeda untuk meyakinkan para pemilih. Sebuah ending yang sangat diharapkan menjadi momen golden chance untuk para kandidat. Yaitu, kesempatan lawan menjadi kawan. Sudah pantas dieliminasi kemungkinan kawan berganti lawan. Ironis sekali ketika kesempatan menjadi kawan itu kandas, saling menghancurkan pun jadi pilihan. Sungguh memalukan ketika generasi produktif seperti mahasiswa harus ikut terprovokasi suasana. Tentu akan ada yang menikmati kesempatan ini dalam bentuk guyonan bahkan standing ovation. Jelas bukan sebuah prestasi.

Menjadi Mantra Utama
Sebuah tanda tanya besar berupa “ Sudah adakah pilihan ? untuk sang calon presma yang sudah mulai terpampang abstrak di jidad kita, lantaran masa pembuktian tiap kandidat bisa dikatakan sudah berakhir. Serangkaian periode “cakologi” nya sudah lewat, tinggal kita para pemilih yang akan melewati fase “bimbang” untuk menetapkan. Belajar dan menyaksikan dari prosesi yang dilakukan para kandidat yang telah menawarkan berbagai janji – janji. Tentunya ibarat masyarakat sipil republik ini, kita juga menaruh harapan besar pada sang calon presiden untuk merealisasikan setiap janji – janjinya agar menjadi sebuah pembuktian tidak adanya janji palsu dan fiktif. Untuk itu, “open your eyes and mind” mungkin menjadi mantra utama dalam mengusung hari-H PEMIRA periode ini. Bukan pembenaran ketika golput menjadi sasaran para pemilih, lantaran alasan klise seperti “tidak punya calon yang diunggulkan”, “malas nyoblos” , atau apapun itu. Sebuah langkah yang sangat superior ketika kita tidak ragu menaruh harapan pada seorang calon. Itu menandakan, ada satu langkah strategis yang berani dipilih untuk memulai skenario baru dengan kandidat pilihan masing masing. Sangatlah merugi, ketika kesempatan memilih tidak dimanfaatkan. Padahal peluang terpilih yang tepat akan besar ketika hak pilih tidak salah kaprah. Bahkan sangat perlu mempertimbangkan dan menganalisis, tentu saja karena ketika nantinya sang presma terpilih menduduki parlemen tertinggi di strata mahasiswa itu, pastinya akan “lebih” dari sebelumnya, entah itu lebih baik atau lebih buruk. Who knows?. rr



Posting Komentar

 
Top