SPP UKT, Pantaskah Diterapkan Di Unsyiah ? | Industrial Times

0

Suasana di Universitas Syiah Kuala, Jantong Hatee Rakyat Aceh sedang semarak. Setiap sudut kampus dipenuhi mahasiswa/i yang berbaris rapi sambil mendengarkan beberapa senior didepan mereka menyampaikan beberapa hal. Universitas Syiah Kuala atau yang lebih dikenal dengan Unsyiah sedang bersiap menyambut mahasiswa baru tahun ajaran 2013/2014.

Namun ditengah kebahagiaan tersebut, muncullah sebuah kergusaran serta kerisauan. Tahun ini, ada sistem berbeda terkait pembayaran SPP yang diterapkan di UNnsyiah. SPP tahun ini tidaklah sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun-tahun sebelumnya, mahasiswa/i yang berkuliah di Unsyiah membayar SPP hanya dibedakan berdasarkan fakultas yang dimasukinya, berbeda dengan tahun ini. Tahun ini, terdapat kebijakan baru terkait pembayaran SPP yang berkonsep subsidi silang yang dikenal dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang berarti uang keperluan kuliah mahasiswa perfakultas dan perjurusan dicari rata-ratanya untuk kemudian dibagi menjadi lima tingkat pembayaran berbeda. Untuk menentukan besarnya biaya SPP yang harus dibayarkan mahasiswa, maka saat pendaftaran ulang, mahasiswa diminta membawa bukti tagihan rekening listrik, surat gaji orang tua, serta beberapa berkas lainnya untuk kemudian didalami lagi sehingga nantinya akan dapat ditentukan berapa biaya yang harus dibayar mahasiswa tiap semesternya.

Disatu sisi, hal ini membantu mahasiswa yang kurang mampu untuk tetap berkuliah dengan biaya kuliah yang terjangkau. Namun disisi yang lain, timbul pertanyaan. Apa hal yang didapat mahasiswa sebagai timbal balik besarnya biaya SPP yang dikeluarkan setiap semesternya? Jika kita melihat contoh terhadap universitas yang terlebih dahulu menerapkan sistem UKT ini, Universitas Indonesia misalnya. Di Universitas Indonesia, terdapat juga lima tingkatan pembayaran SPP, tapi timbal balik untuk mahasiswanya jelas terlihat. Universitas Indonesia memiliki perpustakaan dengan fasilitas terbaik dan terbesar di Asia Tenggara. Dengan 1,5 juta buku serta adanya fasilitas komputer dengan jaringan internet hingga kantor pos dan bank. 

Selain itu, Universitas Indonesia memiliki fasilitas transportasi dalam kampus yang sangat baik, yaitu bus kampus. Bus ini beroperasi mengantarkan mahasiswa dari satu fakultas ke fakultas lainnya gratis tanpa dipungut biaya apapun. Universitas Indonesia juga menyediakan sepeda yang bisa digunakan di area dalam kampus. Belum lagi pelayanan via internet yang dimiliki situs resmi Universitas Indonesia sangat mengesankan. 

Begitu juga dengan Universitas Brawijaya di Malang, Universitas ini juga telah menerapkan sistem pembayaran SPP UKT. Meski tidak sebaik UI, pelayanan dan fasilitas di Universitas Brawijaya tidak mengecewakan. Mahasiswa bisa mengakses internet hampir disetiap sudut kampus. Selain itu, adanya link untuk memudahkan lulusan universitas ini untuk mencari kerja juga merupakan fasilitas yangcukup baik dari UB. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan di Unsyiah yang perpustakaannya lebih didominasi buku-buku tua dengan jaringan internet terbatas bahkan di perpustakaan sekalipun. Pelayanan birokrasi yang kadang menyulitkan. Hal inilah yang kemudian mendorong adanya protes dari mahasiswa maupun pihak orang tua, besarnya biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan fasilitas yang diberikan.

Semoga Unsyiah dapat mencontoh sisi positif dari universitas lain yang terlebih dahulu telah menerapkan sistem UKT demi kesejateraan mahasiswa itu sendiri. (ind/rdl)

Posting Komentar

 
Top