Pak Darni | Industrial Times

0
©Arsalan van de Meerakker
Oleh : Raihan Dara Lufika

Saat pertama kali mendengar kabar tentang Prof. Dr. Darni M. Daud kembali menjadi Rektor Unsyiah, jujur saja saya shock. Saya juga tidak begitu mengerti, entah bagaimana, kabar itu terdengar canggung ditelinga saya. Ada hal yang terasa aneh dalam berita ini. Sampai saat ini pun, saya belum bisa memastikan hal aneh apa sebenarnya yang ada dalam berita ini.

Aneka Jabatan
Pak Darni masih menjabat sebagai Rektor saat saya diterima untuk berkuliah di Unsyiah. Pada saat itu pula, pak Darni telah mencalonkan diri sebagai calon gubernur Aceh. Terkait pencalonan tersebut, dikatakan bahwa pak Darni harus mengundurkan diri dari jabatan negeri jika menjadi calon Kepala Daerah atau calon Wakil Kepala Daerah. Namun pak Darni tidak mengundurkan diri melainkan hanya mengambil cuti saja. Maka Menbudiknas mengeluarkan SK yang memberhentikan pak Darni dan kemudian mengangkat Prof.Dr. Ir. Samsul Rizal, M. Eng sebagai PJ Rektor. Entah mengapa, hal ini terdengar masuk akal bagi saya.
Masa Pemilu Kada pun terlewati, sayangnya pak Darni belum terpilih menjadi Gubernur Aceh, maka beliau meminta untuk dikembalikan jabatannya. Namun hal itu tidak dipenuhi oleh Menbudiknas. Maka pak Darni pun mengajukan banding dengan menggandeng Yusril Ihza Mahendra sebagai pengacaranya. Dengan melalui persidangan, PTUN memutuskan untuk memenangkan pihak pak Darni yang berarti pak Darni harus kembali menjadi Rektor Unsyiah.

Image
Entahlah, image yang ditampakkan pak Darni dari awal sudah jelek bagi saya pribadi. Ada hal-hal buruk yang hadir seiring disebutkannya perihal pak Darni kembali menjadi Rektor. Saya bukan mahasiswa Hukum yang mengerti seluk-beluk hukum negeri ini. Saya hanya orang awam yang kebetulan diberi kesempatan untuk berkuliah di Unsyiah. Dari sudut pandang awam saya, saya tidak setuju dengan pengembalian ini, bukan saya memihak satu pihak atau pihak lainnya. Hanya saja, adalah sebuah keharusan seorang pemimpin memiliki kharisma dan wibawa sehingga kepemimpinannya dapat memberikan kebaikan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Namun apa yang akan terjadi jika bahkan orang-orang yang dipimpinnya tidak lagi menghormatinya? Entahlah, mungkin kita harus menunggu sejenak sebelum melihat hasilnya. 

*Raihan Dara Lufika, mahasiswi Teknik Industri Universitas Syiah Kuala angkatan 2011, Email : raihandara94@yahoo.com, Web/blog : warnawarniharapan.tumblr.com

Posting Komentar

 
Top